Terkini.id, Jakarta- Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Guntur Romli kembali melontarkan komentar kepada Gubernur DKI Jakarta terkait ubah 22 nama jalan.
Pemerintahan Anies Baswedan baru-baru mengubah 22 nama jalan menjadi nama sejumlah tokoh Betawi.
Pengubahan nama jalan menjadi nama tokoh Betawi tersebut lantas menjadi ramai diperbincangkan di media sosial.
Guntur Romli turut berkomentar dan menyingung Anies Baswedan melalui akun Twitternya yang diunggah pada Minggu 26 Jui 2022.
Guntur Romli melontarkan pernyataan menohok dengan menyebut Anies Baswedan tidak peduli terhadap tokoh Betawi.
- Abu Janda Jadi Penjilat Prabowo, Guntur Romli Sebut Tidak Ada Makan Gratis
- Guntur Romli Sentil AHY Soal G20: Dia ini Dangkal Komennya
- Guntur Romli Sindir Buzzer Anies, Capres Nasdem Itu Dianggap Caper ke Gibran Buntut Tak Dapat Restu dari Jokowi
- Guntur Romli, 5 Alasan Koalisi Anies Baswedan Gagal Deklarasi
- Jusuf Kalla Sebut Semakin Anies Baswedan Direndahkan Maka Akan Semakin Populer
“Apakah Anies peduli dengan tokoh-tokoh Betawi? Saya tak yakin,” tulis Guntur Romli.
Menurut Guntur Romli, Anies Baswedan politisasi isu pengubahan nama jalan dengan tokoh Betawi untuk menutupi kegagalannya menguasai Jakarta.
“Kalau politisasi isu ini untuk menutupi kegagalan dia menguasai Jakarta sih iya,” ujar Guntur.
Guntur pun mengatakan, Anies tidak perlu untuk mengubah 22 nama jalan.
Pasalnya, pengubahan nama tersebut justru akan membuat warga menjadi susah.
“Gak usah ubah 22 nama jalan yang bikin susah warga,” kata Guntur.
Lebih lanjut, Guntur menyarankan untuk mengganti nama JIS (Jakarta International Stadium) menjadi MH Thamrin Stadion atau Pitung Stadion.
Dengan mengganti nama JIS menjadi nama dua tokoh Betawi tersebut, kata Guntur, gaungnya akan lebih besar.
“Cukup ganti nama JIS dengan MH Thamrin Stadion atau Pitung Stadion itu gaungnya akan lebih besar,” ungkapnya.

Sebelumnya, Guntur Romli menyatakan bahwa di balik perubahan nama-nama jalan menggunakan nama tokoh Betawi terdapat politisasi isu SARA.
“Ini politisasi isu SARA di balik perubahan nama jalan,” ujarnya.
Menurut Guntur Romli, seharusnya sebagai ibukota Indonesia, Jakarta mesti mencerminkan kebhinekaan.
Dia menambahkan agar perubahan nama jalan tersebut tidak diidentikkan dengan satu suku saja.
“Harusnya Jakarta mencerminkan kebhinnekaan, ini ibu kota, jangan diidentikkan dengan satu suku saja,” jelas Guntur.
Lebih lanjut, Guntur Romli meragukan Anies Baswedan peduli terhadap tokoh Betawi.
Pasalnya, perubahan nama-nama jalan tersebut dilakukan pada jalan-jalan kecil yang padat pemukiman.
Menurut Guntur, perubahan nama-nama jalan kecil yang padat pemukiman justru akan menyusahkan warga.
“Kalau bener Anies peduli pada tokoh Betawi kenapa yang diubah hanya nama jalan-jalan kecil yang padat pemukiman sehingga menyusahkan warga-warga di sana,” ungkapnya.
“Kenapa tidak ubah JIS menjadi MH Thamrin Stadion misalnya,” sambungnya.
Selanjutnya, Guntur pun mencontohkan penamaan nama-nama jalan yang ada di sejumlah wilayah di DKI Jakarta.
Dia menyebutkan nama-nama jalan utama di DKI Jakarta, seperti MH Thamrin tokoh dari Betawi, Jend. Soedirman dari Jawa, Sisingamangaraja dari Batak, Panglima Polim dari Aceh dan Fatmawati dari Bengkulu.
“MH Thamrin, tokoh Betawi nama jalan utama. Selanjutnya Jend Soedirman dari Jawa, Sisingamangaraja dari Batak, Panglima Polim dari Aceh, Fatmawati Melayu Bengkulu. Ini contoh penamaan jalan-jalan,” sebut Guntur.
Dari nama-nama jalan yang dicontohkan, Guntur kembali mengingatkan untuk tidak mengambil dari satu suku saja.
Hal tersebut, kata Guntur, dikecualikan jika memang Anies Baswedan sengaja ingin politisasi SARA.
“Jangan cuma ambil dari satu suku saja. Kecuali Anies memang sengaja mau politisasi SARA,” pungkasnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
