Arab Saudi yang jadi kiblat umat Islam di seluruh dunia, pun telah melakukan berbagai perubahan fundamental melalui kebijakan Visi 2030 yang diarsiteki MBS yang kemudian menjadi Putra Mahkota. Kebijakan tersebut mengusung misi diversifikasi sumber ekonomi dengan membuka kran sosial-budaya seluas-luasnya agar berbagai pintu devisa terbuka, sehingga tidak lagi sepenuhnya tergantung dari migas (persiapan era pascamigas). Kaum perempuan diizinkan mengemudi dan berpartisipasi di ruang publik, serta mengizinkan beroperasinya bioskop dan konser musik.
Gambaran negara-negara mayoritas Islam yang tak berdaya dalam kompetisi global saat ini memicu pertanyaan: apakah ajaran Islam anti terhadap kemajuan? Apakah Islam tidak kompatibel dengan perkembangan dunia saat ini? Ataukah memang umat Islam merasa tidak perlu untuk mengikuti perkembangan zaman?.
Salah satu topik yang sering menghibur keadaan umat Islam yang tertinggal adalah ketika menyoroti sisi gelap negara-negara maju, seperti tingginya angka bunuh diri, orang-orang tua yang hidup bahkan mati sendirian tanpa sanak keluarga, penyalahgunaan narkoba dan berbagai problem sosial dan kejiwaan masyarakat modern.
Konklusi dari ulasan seperti ini biasanya menyebut agama (Islam) sebagai solusinya, sekaligus berpotensi membentuk persepsi umat Islam yang ogah dengan kemajuan karena melihat sisi gelap negara-negara maju itu. Faktor pendorong kemajuan negara-negara maju akan dianggap bukan solusi dari kemiskinan dan ketertinggalan, melainkan harus lebih taat lagi dalam beragama. Rumus hidup bahagia yang selalu direproduksi adalah yang penting bagaimana bisa memperbaiki amal ibadah, banyak bersedekah, mengendalikan diri dari sifat-sifat tercela seperti kesombongan, serakah, foya-foya dan kemaksiatan lainnya.
Seharusnya masyarakat yang sejahtera di negara-negara maju dengan orang-orang miskin di negara-negara tertinggal dipandang dengan pendekatan yang berbeda. Kepada orang-orang yang berlimpah materi itulah agama lebih tepat datang mengisi kekosongan jiwanya, mengajarkan kebahagiaan spiritual, berbagi, mencegah dari kesombongan dan foya-foya, serta mengendalikan diri dari potensi keburukan akibat dorongan keberlimpahan materi. Bukan sebaliknya penduduk yang sudah susah hidupnya hanya disuruh bersyukur, sabar dan tawadhu terus.
- Browcyl Resmikan Outlet ke-23 di Pallangga, Tebar 1.400 Voucher Berhadiah Emas
- Rayakan HUT Ke-14, Browcyl Tebar Promo Diskon 10 Persen dan 1.400 Hadiah, Ada Grand Prize Emas
- Lontara+ Jadi Andalan Pemkot Makassar, Muhammad Roem Paparkan Strategi Digital di Forum Komdigi APEKSI 2026
- LONTARA+ Makassar Tuai Apresiasi di Forum Komdigi APEKSI 2026, Daerah Siap Belajar Transformasi Digital
- Wali Kota dan Wawali Makassar Kompak Hadiri Penutupan Rakernas APEKSI XVIII, Perkuat Kolaborasi Pusat dan Daerah
Seharusnya agama memotivasi mereka untuk melakukan mobilitas untuk mencapai kebahagiaan bukan hanya di akhirat tetapi juga di dunia. Para tokoh agama juga seharusnya tidak melulu berbicara tentang kematian dan masalah-masalah eskatologi. Apalagi jika umat dibuat terbiasa dan lebih senang dengan kisah-kisah keajaiban. Begitupula dengan perdebatan nasab kenabian.
Selain berbicara tentang keimanan, halal-haram, dan hal-hal yang gaib, para tokoh agama juga seharusnya banyak memproduksi narasi tentang kesejahteraan dan keberdayaan, seperti mengelaborasi praktik hidup Nabi dan para sahabatnya dari sisi kerja keras, kemandirian dan kedaulatan ekonomi serta aktivitas bisnisnya yang mengagumkan.
Mengenai angka bunuh diri, di beberapa negara maju memang sangat tinggi, seperti Korea Selatan, tetapi berbagai sumber data global yang dapat diakses secara online (misalnya , , , dll.) menunjukkan bahwa tingkat teratas negara-negara yang angka bunuh dirinya tertinggi masih didominasi oleh negara-negara berkembang. WHO sendiri melaporkan bahwa 73% kasus bunuh diri global terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah ().
Negara-negara Islam memang menempati posisi paling rendah angka bunuh dirinya, seperti Oman, Mesir, Lebanon, Syria dan Palestina, tetapi beberapa negara non muslim seperti Jamaika, Myanmar, Peru pun memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah dari negara paling mayoritas Islam (Maroko, Afghanistan, Somalia), bahkan negara mayoritas Kristen seperti Papua Nugini jauh lebih rendah angka bunuh dirinya dibandingkan Arab Saudi.
Peristiwa dan kehidupan yang dicap hitam di negara-negara maju, pun sebenarnya terjadi di negara-negara miskin. Jangan lupa bahwa stres, depresi, bunuh diri dan tingginya angka kematian bukan berarti selalu disebabkan oleh disorientasi keberlimpahan materi, tetapi justru karena kemelaratan, kesehatan yang buruk, ketidakamanan dan sebagainya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
