Islam Anti Kemajuan?

Islam Anti Kemajuan?

AT
Muhlis Pasakai
Admin Terkini

Tim Redaksi

Dalam sejarah perang Badar, musuh yang menjadi tawanan perang dapat dibebaskan dengan syarat memiliki tebusan, senilai 1000 hingga 4000 dirham. Bagi tawanan yang tidak memiliki tebusan, maka Nabi memberikan kebijakan dengan menyerahkan 10 anak-anak Madinah kepada setiap tawanan untuk diajarkan baca tulis, jika anak-anak tersebut sudah pandai, maka itulah tebusannya. Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi justru sangat mendorong semangat literasi.

Dalam perang Ahzab atau perang Khandaq, ketika kaum Muslimin akan dikepung pasukan gabungan Yahudi, kabilah dan suku-suku Arab, Nabi mengumpulkan para sahabat dan melakukan musyawarah tingat tinggi untuk menentukan strategi yang akan digunakan menghadapi kepungan itu, maka Salman al-Farisi sebagai orang Persia mengusulkan taktik perang yang biasa digunakan orang-orang Persia ketika menghadapi kepungan, yang belum dikenal bangsa Arab pada saat itu, yaitu menggali parit, dan itu pun yang disepakati oleh Nabi. Strategi itulah yang ditempuh Nabi bersama para pasukan sehingga dapat meminimalisir risiko perang.

Peristiwa dalam perang Ahzab ini mengajarkan tentang bolehnya kita mengambil atau mempelajari ilmu dari bangsa atau umat lain untuk keperluan dan kemaslahatan bangsa kita.

Mendorong semangat literasi dan terbuka terhadap ilmu pengetahuan, sains dan teknologi adalah syarat yang tidak dapat kita elakkan jika kita ingin beradaptasi dan ikut menjadi pemeran dalam kompetisi global saat ini. Sebagaimana sebagian fase pada abad pertengahan ketika umat Islam menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia, konon seorang misionaris menulis bahwa perpustakaan pribadi orang Islam pada abad ke-10 lebih banyak koleksi bukunya dibandingkan perpustakaan umum yang dimiliki bangsa Barat.

Tanpa menafikan pentingnya perbaikan jiwa dan spiritual, umat Islam saat ini harus me-revive era keemasan ilmu pengetahuan sebagaimana dahulu pernah melahirkan tokoh-tokoh seperti al-Khawarizmi, al-Bairuni, Abu Bakar ar-Razi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, al-Haitsam, al-kindi, Jabir bin Hayyan, dll. Mereka adalah raksasa ilmu pengetahuan di zamannya dengan masing-masing disiplin ilmunya, mulai dari matematika, kedokteran, astronomi, kimia hingga pertanian. Masalahnya kemudian jika ilmuwan-ilmuwan itu, misalnya Ibnu Sina atau Al-Farabi disesatkan bahkan dikafirkan oleh ulama generasi berikutnya.

Baca Juga

Menguasai ilmu pengetahuan, sains dan teknologi sekaligus dengan semua cabang ilmu agama sepertinya mustahil karena ilmu-ilmu Islam sendiri beragam jenisnya. Jika seseorang ingin mempelajari semua cabang ilmu dalam Islam saja mungkin tak pernah benar-benar selesai, apalagi sambil mempelajari ilmu pengetahuan lain yang juga banyak jumlahnya. Oleh karena itu, setiap orang mempelajari dan eksper dalam satu atau beberapa disiplin ilmu saja, tidak semua. Masalahnya adalah jika yang mendalami ilmu agama memandang orang yang mempelajari ilmu-ilmu yang lain kurang mulia, tidak penting, apalagi menganggapnya haram karena ilmunya orang kafir. Oleh karena itu, bagi penggelut ilmu-ilmu agama (Islam) jangan memproduksi narasi bahwa orang yang mendalami ilmu selain ilmu agama, misalnya matematika, teknik, kedokteran, pertanian atau yang lain sebagai orang yang merugi dan hanya sibuk dengan urusan dunia, serta tak memiliki investasi akhirat.

Jika semua umat Islam hanya digiring untuk duduk mendengarkan kajian tafsir, hadis, fiqih dengan segala perinciannya, maka hampir tidak ada waktu yang dapat digunakan untuk belajar dan berinovasi di bidang sains dan teknologi, karena kajian ilmu keislaman itu sendiri sangat berjibun ragamnya. Oleh karena itu, umat Islam harus membagi diri, selain ada yang menguasai ilmu-ilmu keagamaan, harus juga ada yang serius menggeluti ilmu pengetahuan lain seperti sains dan teknologi, sehingga arahnya nanti keilmuan dalam tubuh umat Islam bisa terintegrasi dan saling mendukung.

Jika nama-nama besar yang melahirkan karya-karya di mana ilmuwan Barat pun pernah belajar darinya dianggap sesat bahkan kafir, kira-kira apa lagi yang Islam bisa banggakan di hadapan bangsa-bangsa lain saat ini, kecuali petarung-petarung Islam MMA dengan gaya grappling-nya di oktagon, itu pun dihukumi sebagai olahraga yang haram.

Saudi Arabia, 2025

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.