Islam Anti Kemajuan?

Islam Anti Kemajuan?

AT
Muhlis Pasakai
Admin Terkini

Tim Redaksi

Dalam Islam, pemeluknya dituntun untuk tidak mabuk dunia, karena kehidupan di dunia tidaklah abadi, kehidupan yang sesungguhnya adalah pasca kematian. Meskipun demikian, Islam tidaklah mengajarkan kemalasan dan kepasrahan tanpa usaha, kendati memang bisa saja dipahami seperti itu.

Banyak dalil-dalil yang dapat dipahami dalam Islam yang akan memicu kelesuan terhadap kemajuan. Sebagai contoh, ayat-ayat yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan kenikmatan yang menipu. Ayat-ayat ini bisa saja menjadikan orang enggan untuk berusaha mencari nikmat dunia, tetapi cukup dengan beribadah untuk akhirat saja.

Begitu pula dengan hadis yang menjelaskan bahwa manusia hanya ibarat musafir di dunia, yang singgah sejenak lalu pergi. Dari sini orang juga dapat memahami bahwa untuk apa sibuk-sibuk bersusah payah mengumpulkan fasilitas dunia, toh kita cuma sebentar saja.

Pilihan untuk hidup miskin juga bisa didorong oleh hadis yang mengatakan bahwa orang miskin lebih dahulu masuk surga daripada orang kaya.

Kesalahan memahami tentang tasyabbuh atau menyerupai umat lain juga dapat berdampak pada antipati untuk mengikuti cara hidup masyarakat negara-negara maju yang non muslim, termasuk ilmu pengetahuannya.

Baca Juga

Hadis yang lain juga menjelaskan bahwa jika fokus mengejar akhirat maka dunia pun akan mendatangi. Dalil andalan ini kadang agak sulit dimengerti jika dipahami dengan percaya diri bahwa ibadah seperti shalat saja sudah cukup, tanpa bekerja pun bisa hidup makmur.

Apakah semua dalil-dalil di atas salah dan seharusnya dihapus apabila umat Islam ingin mengejar ketertinggalan? Umat beragama tentu meyakini bahwa wahyu tidaklah salah, tetapi seperti apa pemahaman orang terhadap dalil tergantung dari penjelasannya.

Sebagai contoh, pandangan yang menyeru umat Islam untuk fokus di Masjid saja, walaupun umat lain sudah mengeksplorasi angkasa luar dengan ilmu pengetahuannya. Katanya, dalam hadis, Nabi Muhammad saja yang tidak tau membaca, tidak menghitung dan tidak menulis dapat memimpin Islam mendominasi peradaban-peradaban lain di zamannya.

Pandangan seperti ini terkesan menilai bahwa tidak terlalu penting mempelajari ilmu pengetahuan dan sains modern. Selain itu, juga tidak mendukung semangat literasi seperti membaca, menulis, termasuk berhitung (ilmu matematika dan statistik) karena katanya Nabi pun tidak melakukan itu.

Pada praktiknya, Nabi dan para sahabatnya bukanlah orang yang anti terhadap kesejahteraan, karena banyak di antara mereka yang sangat kaya raya. Tidak pula anti terhadap literasi dan adaptasi dari bangsa atau umat lain.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.