Terkini.id, Jakarta – Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi mengaku tidak memiliki cukup waktu untuk membereskan polemik komoditas gula tahun ini.
Lutfi mengatakan hal tersebut karena sudah banyak izin impor gula di Kemendag saat ia dilantik sebagai Mendag pada Desember 2020 lalu.
“Saya sudah bilang kalau saya disuruh beresin gula tahun ini saya enggak punya waktu, karena begitu saya masuk ke Kemendag pertama kali izin di meja saya adalah impor gula rafinasi dan idle capacity,” terang Lutfi, Jumat, 9 April 2021, dilansir dari CNN Indonesia.
Hal itu dikemukakan Lutfi rakernas Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia saat menjawab keluhan petani tebu yang terus merugi sejak 2018 karena rendahnya harga gula akibat impor.
Terkait hal itu, Lutfi juga mengaku bingung mengapa stok gula tidak ada habisnya meski impor sudah berusaha ditekan.
- Eks Mendag Lutfi Diperiksa Dalam Kasus Minyak Goreng, Kejagung : Untuk Memperkuat Pembuktian dan Melengkapi Berkas
- Chusnul Chotimah: Menteri BUMN sampai Presiden Jokowi Turun Tangan Urus Minyak Goreng, 'Mendag Lutfi Gunanya Apa'
- Mendag Ancam Pengusaha yang Langgar Larangan Ekspor Minyak Goreng, Netizen: Tangkap Proses dan Penjarakan
- Akhirnya! Jokowi Larang Ekspor Minyak Goreng, Ketua BPKN Dukung Penuh Kebijakannya
- Bahaya! Perusahaan Sawit Sponsori Penundaan Pemilu 2024, Masinton Pasaribu Sebut Anggarannya untuk Bayar Sidang MPR
Ia mengatakan telah memanggil anak buahnya dan menanyakan berapa banyak impor gula yang dilakukan pada tahun lalu, namun angka yang diberikan selalu berubah setiap kali ditanya.
Oleh sebab itu, Lutfi mengaku tidak tahu secara pasti berapa besar kuota impor gulA yang dikucurkan tahun lalu.
“Jadi saya enggak tahu angkanya sampai hari ini saya enggak tahu, tetapi jumlahnya masif dan terstruktur. Jadi tak saya rem-rem itu enggak selesai-selesai stoknya,” ungkapnya.
Kendati demikian, Lutfi berjanji akan membereskan polemik gula tahun depan dengan melibatkan berbagai pihak, termauk petani, Kementerian Pertanian, hingga Kementerian BUMN.
Pada kesempatan sama, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen juga sempat mengadu kepada Lutfi terkait petani telah mengalami kerugian sejak 2018.
Menurut Soemitro, selama periode 2018-2020 nyaris tidak ada yang mau membeli produk pada lelang dula petani.
“Ini bisa kita cermati dari hasil lelang gula, pada 2018, 2019 bahkan 2020 yang lalu, nyaris tidak ada yang mau membeli. Sampai-sampai pernah dilelang ditawar di bawah Rp10 ribu,” bebernya.
Bukan hanya itu, petani juga kesusahan mendapatkan pupuk, baik subsidi maupun non-subsidi.
“Saya kaget Pak ketika saya membeli pupuk non-subsidi rata-rata satu sak Rp280 ribu-Rp300 ribu, satu sak, kalau subsidi tidak lebih dari Rp200 ribu barangkali satu kwintal,” ujar Soemitro.
Sementara itu, katanya, petani juga sulit mendapatkan pinjaman berbunga rendah.
Oleh karena itu, Soemitro meminta agar pemerintah dapat memberikan pinjaman berbunga rendah kepada petani yang setara dengan acuan suku bunga Bank Indonesia (BI).
“Kalau pinjam kredit lain ada relaksasi bunga diturunkan, enggak juga, petani ini cuk (kesal)-nya petani baik jadi orang menganggur karena jadi orang menganggur dibantu, tapi petani yang kerja keras (tidak dibantu),” tandasnya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
