Kasus Kematian Misterius Munir Hendak Ditetapkan Sebagai Pelanggaran HAM Berat, Berikut Kronologi Kejanggalan Kasusnya!

Terkini.id, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia tengah mengupayakan untuk menetapkan pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib menjadi pelanggaran HAM berat. Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyampaikan bahwa penetapan tersebut tak akan lama lagi diumumkan.

“Ini akan diputuskan semoga dalam dua bulan ke depan beres,” kata Anam dilansir dari laman Tempo pada Kamis, 19 Mei 2022.

Anam menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan pihaknya ialah mengundang sejumlah ahli untuk menilai kemungkinan kasus ini ditetapkan menjadi kasus pelanggaran HAM berat. Para ahli, kata dia, berpendapat bahwa serangan terhadap Munir memang bukan aksi kriminal biasa.

Baca Juga: Soal NasDem Umumkan Tiga Capres 2024, Natalius Pigai: Saya Yakin...

“Mereka mencontohkan beberapa kasus di dunia internasional dan itu menunjukkan karakter yang sama,” kata Anam.

Anam juga memperjelas bahwa Komnas telah mendapatkan petunjuk bahwa Munir bukanlah satu-satunya target pada serangan tersebut. Petunjuk inilah yang saat ini sedang didalami oleh Komnas HAM.

Baca Juga: Tanggapan Komnas HAM Soal Wacana Kejaksaan Agung Larang Penggunaan Atribut...

“Dahulu temuan itu belum kami dalami,” kata Anam.

Permintaan agar Komnas HAM segera menetapkan kasus Munir menjadi pelanggaran HAM berat salah satunya dilakukan oleh Komite Aksi Solidaritas untuk Munir. Penetapan kasus itu menjadi pelanggaran HAM berat dinilai penting untuk mencegah kedaluwarsa penuntutan secara pidana.

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, masa kedaluwarsa kasus pidana ialah 18 tahun.

Baca Juga: Tanggapan Komnas HAM Soal Wacana Kejaksaan Agung Larang Penggunaan Atribut...

Kasus pembunuhan Munir genap 18 tahun pada 2022 ini. Munir tewas dibunuh dengan cara diracun saat penerbangan ke Belanda. Meski sudah ada pelaku lapangan yang telah dipenjara, banyak pihak menilai masih ada aktor intelektual yang belum terungkap.

Kasus pembunuhan Munir hingga saat ini belum menemukan titik terang, dan terus menjadi misteri. Pasalnya Munir meninggal di dalam pesawat dengan cara yang tidak wajar.

Sejumlah fakta kronologinya adalah sebagai berikut.

Pada 4 September 2004. Dua hari sebelum keberangkatan, Munir mendapat telepon dari pilot Garuda, Pollycarpus yang menanyakan jadwal keberangkatan Munir ke Amsterdam. Telepon itu tidak diangkat oleh Munir langsung, melainkan istrinya bernama Suciwati. 

Setelahnya diketahui bahwa ternyata Pollycarpus membuat dokumen palsu tentang penugasannya, agar dapat berangkat satu pesawat dengan Munir.

Di hari keberangkatan, 6 September 2004, Pollycarpus sempat mendatangi Munir dan bertukar tiket pesawat.

15 menit setelah lepas landas, pramugari menyambangi Munir dan menawarkan sejumlah makanan dan minuman yang kemudian disantap oleh Munir.

Saat pesawat Transit di Singapura, Munir masuk kedalam sebuah kafe bersama Pollycarpus dan satu temannya. Di dalam kafe, Pollycarpus memberi segelas kopi kepada Munir dan diminumnya. Beberapa menit sebelum kembali ke pesawat, di ruang tunggu Munir mengirim pesan singkat kepada Suciwati bahwa perutnya terasa sakit.

Munir terus melanjutkan perjalanan. Di dalam pesawat sakit perutnya semakin terasa. Kondisi semakin buruk, dan Munir beberapa kali muntaber. Denyut nadi Munir melemah, bahkan ia tidak dapat berbicara saat dokter datang. 

Hari setelahnya, 7 September 2004, Munir kembali ke toilet, namun 10 menit berlalu Munir belum keluar. Kemudian temannya datang menghampiri dan menemukan Munir di dalam toilet tidak bisa berdiri.

Kembali ke tempat duduk, dokter akhirnya memberikan obat penenang (diazepam). Munir pun beristirahat. Kala itu Munir masih sadar, dan sempat mengacungkan jempol kepada awak pesawat yang minta izin untuk sholat dan menyiapkan sarapan.

Ketika awak pesawat kembali untuk mengecek, didapatkan Munir telah tidak bernyawa dengan air liur yang keluar dari mulutnya. Telapak tangan Munir pun membiru.

Munir meninggal di dalam pesawat Garuda GA-794 pada 7 September 2004 pukul 08.10 waktu Amsterdam.

Bagikan