Kemenkes : Tenaga Kesehatan yang Sedang Jalankan Isolasi Mandiri Tanpa Gejala Tetap Lakukan Pelayanan Melalui Telemedisin

Terkini.id, Jakarta – Untuk pemenuhan Sumber Daya Manusia (SDM) kesehatan, Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi meminta dokter yang terinfeksi Covid-19 tetapi tidak memiliki gejala, untuk tetap memberikan layanan telemedicine kepada pasien Covid-19.

“Perlu juga pelibatan dokter/tenaga kesehatan yang sedang menjalankan isolasi mandiri tanpa gejala dalam pelayanan melalui telemedisin (memberikan telekonsultasi pada staf atau pasien),” kata Nadia.

Nadia, mengatakan pihaknya juga menyambut baik para dokter yang bekerja di manajemen untuk membantu pelayanan atau sebagai penasehat.

Baca Juga: Update Covid-19 Sabtu 25 Juni, Tambah 1.831 Kasus Baru

Selain itu, tenaga dokter di luar Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Covid-19 (DPJP) harus dikerahkan untuk membantu penanganan pasien di bawah pengawasan DPJP, serta kompetensi petugas dalam perawatan isolasi, khususnya isolasi intensif.

Hal ini dilakukan untuk mencegah kondisi krisis tenaga kesehatan selama gelombang Covid-19 varian Omicron.

Baca Juga: Gejala Omicron Mengalami Peningkatan 21 Kasus BA.4, 122 Kasus BA.5

Menurut dia, peningkatan angka positif bagi tenaga kesehatan tersebut disebabkan oleh peningkatan jumlah kasus Covid-19 jenis Omicron.

“Kondisi krisis tenaga kesehatan merupakan kondisi kekurangan tenaga kesehatan yang terjadi di fasilitas pelayanan kesehatan sehingga berdampak pada pelayanan kesehatan,” ujarnya, seperti yang dikutip dari Kompascom. Senin, 14 Februari 2022.

Dari peristiwa lonjakan kasus tersebut, Nadia menjelaskan, diperlukan strategi untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia kesehatan baik dari dalam maupun dari luar.

Baca Juga: Gejala Omicron Mengalami Peningkatan 21 Kasus BA.4, 122 Kasus BA.5

Upaya internal, kata dia, antara lain mengatur pengaturan shift dan mengerahkan tenaga kesehatan dari unit lain untuk membantu pelayanan Covid-19.

Kemudian, menyediakan transportasi antar-jemput dan penginapan bagi karyawan, meminimalkan atau menunda layanan non-darurat, dan meningkatkan layanan telemedicine.

Sementara itu, rumah sakit dapat mengatur relawan Koas dan dokter residen untuk strategi eksternal, dan bekerja dengan kelompok profesional untuk menyediakan staf cadangan.

Selain itu, memobilisasi tenaga kesehatan rumah sakit dari lokasi dengan kasus Covid-19 rendah hingga tinggi, serta mahasiswa akhir di institusi pendidikan kesehatan, terutama untuk dukungan administrasi.

Kemudian, dengan izin, mengerahkan tenaga kesehatan yang bertugas di non fasilitas kesehatan/administrasi kesehatan untuk membantu penanganan pasien Covid-19.

Lebih lanjut, Nadia mengatakan, bagi tenaga kesehatan yang terkonfirmasi Covid-19 gejala ringan dan tanpa gejala dengan perbaikan gejala serta hilang demam lebih dari 24 jam tanpa obat, dapat kembali bekerja minimal lima hari setelah gejala pertama muncul.

Kemudian, ditambah dua kali pemeriksaan NAAT dengan hasil negatif selang waktu 24 jam.

Sementara itu, bagi nakes dengan risiko kontak erat atau terpapar Covid-19 yang sudah mendapat vaksin dosis ketiga dapat kembali bekerja setelah hasil negatif pada hari kedua setelah terpapar.

”Upaya ini kami harapkan segera dipersiapkan oleh setiap kepala dinas kesehatan provinsi/kabupaten dan direktur rumah sakit,” pungkasnya.

Bagikan