Keren, Tiga Mahasiswa Unhas Ciptakan Aplikasi Deteksi Lubang Bagi Pedestrian Tunanetra

Unhas
Tiga mahasiswa Unhas ciptakan aplikasi deteksi lubang bagi pedestrian tunanetra

Terkini.id, Makassar – Didasari keprihatinan atas infrastruktur jalan pedestrian di Indonesia yang tidak ramah bagi kalangan difabel, mahasiswa Unhas ciptakan alat deteksi dan estimasi jarak lubang bagi pedestrian tunanetra.

Sebagai bentuk realisasi dari apa yang didapatkan di dunia pendidikan dan sebagai bentuk kesadaran dan solidaritas terhadap hak-hak penyandang disabilitas, tiga mahasiswa dari Unhas di antaranya Ghina Syukriyah Rania dan Putri Angriani dari Teknik Informatika, serta Khadijah Syamsuddin dari Kesehatan Masyarakat.

Menggagas prototipe SINAR BIRU (alat deteksi dan estimasi jarak lubang bagi pedestrian tunanetra) dalam bentuk aplikasi untuk smartphone sebagai inovasi yang diajukan pada Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) tahun 2019.

Secara garis besar pembuatan PKM ini bersumber dari rasa empati terhadap kaum difabel yang akhirnya ditindaklanjuti dengan diskusi dengan teman-teman difabel di Yayasan Tunanetra di Kabupaten Gowa dan YAPTI di Kapten Pierre Tendean.

Sebagian besar dari penyandang tunanetra mengaku kesulitan ketika berjalan diakibatkan banyaknya lubang di jalan yang membahayakan para pejalan kaki khususnya penyandang tunanetra.

“Deskripsi dari program kami yaitu dengan memanfaatkan aplikasi smartphone yang digandeng dengan alat bernama povie, dikalungkan di leher penggunaan agar fungsi kedua tangan yaitu untuk memegang tongkat dan keseimbangan tidak terganggu. Aplikasi ini mengeluarkan suara berupa informasi jarak relatif pengguna terhadap lubang,” kata Ghina Syukriyah selaku Ketua Tim, Kamis, 23 Mei 2019.

“Penyandang disabilitas tunanetra memiliki level-level penglihatan. Ada yang buta total ataupun yang masih dapat melihat secara terbatas,” sambungnya.

Sementra itu, salah satu anggota tim, Khadijah Syamsuddin mengungkapkan, beberapa disabilitas tunanetra memiliki ketajaman sentra 20 feet atau ketajaman penglihatannya hanya pada jarak 6 Meter atau kurang walaupun dengan menggunakan kacamata.

“Itulah mengapa para penyandang disabilitas tunanetra sering kehilangan tongkatnya ketika berjalan diakibatkan banyaknya lubang di kawasan pedestrian yang tidak dapat dijangkau oleh ketajaman penglihatan penyandang tunanetra,” jelasnya.

Tim didampingi oleh Dosen Pendamping, Dr Indrabayu ST MT M Bus Sys

Dr Indrabayu selaku dosen pendamping dari PKM-KC mengatakan pihaknya sering mengadakan pertemuan guna memonitoring perkembangan dari PKM ini.

“PKM ini sangat bermanfaat bagi penyandang disabilitas tunanetra, karena alatnya yang tidak terlalu sulit untuk dibawa kemana-mana,” kata Indrabayu yang juga Sekretaris Departemen Teknik Informatika Unhas.

Selain itu, lanjutnya, PKM ini juga memanfaatkan android yang tidak bisa dipungkuri bahwa hampir semua orang di masa sekarang sudah memiliki android.

“Saya sangat berharap inovasi ini bisa segera direalisasikan mengingat para penyandang tunanetra memiliki hak pemenuhan kebutuhan khusus berdasarkan UU RI Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pasal (5) ayat (3e), ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas kita sebagai akademisi,” pungkasnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini