Kisah Panjang ‘The Dybbuk Box’, Kotak Roh Jahat yang Super Horor

Kisah Panjang ‘The Dybbuk Box’, Kotak Roh Jahat yang Super Horor

FR
Fitrianna R
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Dalam mitologi, Dybbuk (dibbuk) adalah roh jahat yang dipercaya sebagai jiwa tersesat dari orang yang telah mati.

Alih-alih berakhir di surga, jiwa tersebut justru terjebak di dalam sebuah barang dan akan tetap di sana sampai seseorang melepaskannya (mirip cara kerja lampu ajaib Aladdin).

Kata “dybbuk” sendiri berasal dari bahasa Yahudi kuno (Hebrew) yang berarti “melekat/menempel”.

Dalam cerita rakyat Yahudi, Dybbuk Box (atau yang biasanya juga disebut “dibbuk box”) adalah sebuah wine cabinet yang dipercaya dihantui oleh sosok roh jahat.

Cerita kotak ini dimulai pada September 2001 ketika sebuah acara lelang di Portland, Oregon, menjual barang-barang antik milik seorang nenek berusia 103 tahun.

Baca Juga

Faktanya, nenek tersebut sebenarnya meminta keluarganya untuk menguburkan dybbuk bersama jenazahnya. Namun, sayang, barang itu justru dijual ke seseorang bernama Kevin Mannis. 

Anehnya, cucu dari mendiang sang nenek-lah yang bersikeras bahwa Kevin harus mengambil barang itu setelah ia membelinya (karena Kevin sebenarnya menawarkan untuk mengembalikan kotak itu dengan alasan bahwa pasti barang tersebut memiliki nilai emosional yang dalam bagi keluarga).

Sebagai semacam peringatan, sang cucu lantas memberitahunya bahwa selama neneknya menyimpan kotak itu, ia tidak membiarkan siapa pun membukanya.

Ya, singkat cerita, Dybbuk Box lantas benar-benar berpindah tangan ke sosok tersebut, Kevin Mannis, seorang pemilik toko barang antik.

Ia kemudian meletakkannya di ruang bawah tanah (basement). Nah, di sinilah berbagai kejadian misterius mulai terjadi, seperti lampu toko yang tiba-tiba menyala sendiri, pintu toko dan gerbang terkunci sendiri, hingga bahkan muncul bayangan besar yang tampak berlari menyusuri lorong.

Suatu hari ketika Kevin meninggalkan toko karena urusan tertentu, ia tiba-tiba dihubungi oleh pegawainya yang mengadukan bahwa ada seseorang yang terdengar bersumpah serapah dan menghancurkan barang-barang di basement.

Kevin pun kembali ke toko dan menemukan lampu-lampu serta beberapa barang di sana memang rusak dan ruangan itu dipenuhi bau tidak sedap (semacam urin kucing, tetapi bagaimana mungkin kucing masuk ke sana?). Pegawai itu kemudian pergi dan tidak pernah kembali lagi.

Di lain hari, Kevin memutuskan untuk tidak memperbaiki kotak itu dan hanya membersihkannya. Ia berniat (karena belum curiga) untuk memberikannya kepada sang ibu sebagai hadiah ulang tahun di suatu temu makan siang mereka.

Namun, ketika Kevin izin sebentar untuk menelepon, seorang pegawai toko tiba-tiba datang padanya dan mengatakan ada yang tidak beres dengan ibunya.

Kevin pun segera kembali ke ibunya dan mendapati sosok tersebut duduk di kursi tanpa ekspresi (dan sama sekali tidak responsif), tetapi anehnya menangis.

Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit dan dokter menjelaskan bahwa sang ibu terserang stroke sehingga kehilangan kemampuan berbicara untuk sementara waktu.

Sepanjang itu, sang ibu hanya bisa berkomunikasi menggunakan papan ejaan di mana ia akan menunjuk ke huruf untuk mengeja kata-kata yang ingin ia sampaikan.

Ketika Kevin bertanya bagaimana keadaannya, ia justru menjawab, “No gift.” Kevin yang bingung kemudian menjelaskan bahwa ia telah memberinya hadiah, tetapi lagi-lagi sang ibu membalas, “Hate gift.”

Oleh karena itu, Kevin memutuskan untuk mengambil kembali kotak tersebut dan memberikannya kepada saudara perempuannya. Saudaranya tersebut lalu menyimpannya selama seminggu dan lagi-lagi mengembalikannya.

Kevin lantas memberikan kotak itu kepada saudara laki-laki beserta iparnya, yang rupanya juga hanya sanggup menyimpannya dalam waktu singkat, yaitu selama tiga hari sebelum mengembalikannya.

Saudara laki-lakinya mengatakan bahawa kotak tersebut aneh, berbau seperti bunga melati, sementara sang istri menjelaskan bahwa baunya seperti urin kucing.

Entah apa yang merasuki Kevin, ia lagi-lagi justru memberikan kotak jahanam tersebut kepada sang pacar, yang segera memintanya untuk menjualnya dan … ya, Kevin berhasil membantu sang pacar menjual barang itu kepada pasangan paruh baya.

Namun, tiga hari kemudian, ia menemukan kotak itu berada di depan tokonya dengan sebuah catatan: “Barang ini memiliki aura gelap yang buruk.”

Semakin bingung kotak tersebut harus diapakan, Kevin akhirnya membawanya pulang ke rumah di mana ia mulai mengalami mimpi buruk.

Dalam mimpinya, ia mengaku sedang berjalan dengan seorang teman baiknya dan ketika ia menatap mata temannya itu, ia justru melihat sesuatu yang jahat balik menatapnya dari dalam dan betapa terkejutnya Kevin ketika temannya tiba-tiba berubah menjadi wanita jahat super mengerikan yang terus memukulinya tanpa henti. Kevin kemudian terbangun dengan memar dan beberapa bekas luka lain di tubuhnya. 

Nah, ketika saudara perempuan, saudara laki-laki, dan sang ipar datang ke rumahnya untuk menginap, mereka semua memiliki mimpi yang sama!

Setelah ditelusuri, rupanya pacar Kevin pun memiliki mimpi yang sama ketika ia memiliki kotak itu. Seperti yang sudah disebut sekilas di paragraf atas, Kevin juga melihat makhluk serupa bayangan besar di rumahnya.

Ia lantas meletakkan kotak itu di suatu tempat dan alarm asapnya tiba-tiba berbunyi. Setelah diperiksa, anehnya tak ada asap sama sekali. Namun, aroma urin kucing tiba-tiba memenuhi rumahnya. 

Masih bingung dan penasaran, Kevin lantas mulai mencari informasi tentang kotak itu di internet. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah ia justru jatuh tertidur dan lagi-lagi mengalami mimpi buruk.

Ia kemudian terbangun pada pukul 4.30 pagi karena merasa seperti ada seseorang yang tengah bernapas di lehernya disertai munculnya aroma bunga melati. Tak hanya itu, ia pun kembali melihat sosok bayangan yang seperti mengintainya. 

Merasa tak sanggup lagi dengan berbagai keanehan misteriusnya, Kevin akhirnya memutuskan untuk menjual Dybbuk Box di eBay dan menjelaskan informasi rinci tentang hal-hal misterius yang terjadi sejak ia memiliki kotak tersebut (berharap bahwa seseorang yang paham akan hal-hal paranormal mau membelinya dan menjauhkannya darinya).

Pada Juni 2003, barang ini akhirnya laku terjual kepada Losif Nietzke yang pada saat itu masih berstatus sebagai seorang pelajar di Missouri.

Namun, delapan bulan kemudian, Losif kembali menjualnya di eBay karena ia dan teman sekamarnya menjadi susah tidur (insomnia hampir setiap hari) dan sering sakit-sakitan.

Losif kemudian berhasil menjualnya dengan harga $280 kepada Jason Haxton yang mendengar tentang barang ini dari teman sekamar Losif. Jason Haxton adalah direktur Museum of Osteopathic Medicine di A. T. Still University.

Haxton lalu menulis berbagai pengalaman mistisnya dengan lemari wine misterius ini dalam sebuah buku berjudul “The Dibbuk Box”.

Ia mengaku gatal-gatal ketika pertama kali memiliki kotak tersebut dan bahkan sampai batuk darah! Selain itu, ia pun menjelaskan bahwa ia pernah melihat cahaya misterius di sekitar kotak bersama bayangan aneh.

Nah, pada tahun 2012, sebuah film yang diangkat dari kisah kotak ini pun dirilis, judulnya “The Possession” sebelum akhirnya seseorang bernama Zak Bagans membeli Dybbuk Box tersebut karena tertarik.

Catatan:
Tulisan panjang ini diterjemahkan langsung ke bahasa Indonesia (dan disesuaikan) dari situs https://exemplore.com/paranormal/The-Dibbuk-Box-Where-is-it-Now

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.