Kisah Reza Anggota BKO Papua Tinggalkan Istri yang Hamil Besar Demi Tugas Negara

Keluarga Reza anggota Brimob BKO Papua
Terkini.id, Parepare – Fitriyani mengenakan pakaian berwarna merah jambu lengkap dengan jilbab yang melekat di kepalanya.

Ia bersama puluhan Bayangkari lainnya menunggu kedatangan anggota Brimob Batalion B Pelopor Parepare yang telah selesai melaksanakan tugas sebagai Bawah Kendali Operasi (BKO) di Polda Papua.

Matanya berbinar tak kuasa menahan air mata. Ia terharu saat menyambut anggota BKO memasuki halaman Markas Brimob di jalan Chalik Kecamatan Bacukiki Barat.

Terdapat 50 personil Brimob yang telah dipulangkan dari Papua, diantara lima puluhan orang tersebut, mata Fitriani tertuju pada sosok lelaki yang berpostur kekar, badan agak berisi dan memiliki tinggi badan sekitar 180 sentimeter.

Dari jauh, Fitriani sudah melihat suaminya datang dengan keadaan sehat seperti sedia kala saat suaminya meninggalkan Kota Parepare, Sulawesi Selatan menuju Provinsi Papua untuk menjalankan tugas dari negara.

“Selamat datang,” kata seorang anggota Brimob saat menyambut rekannya yang usai melaksanakan tugas di Papua.

Meski sudah memasuki halaman Markas Brimob, Fitriani belum sempat menyalami tangan suaminya, Reza sebelum melakukan apel penyambutan. Dia hanya terus memandangi suaminya dari jauh dan sesekali ia menyeka air mata terus jatuh di pipinya.

“Nanti setelah apel, ibu diperkenankan mendekat dan menyalami keluarganya,” kata AKP Paulus Kasno yang memimpin penyambutan.

Fitriani dan Bhayangkari lainnya mematuhi perkataan dari AKP Paulus Kasno dengan menyusun barisan yang berjarak kurang lebih tiga meter dari barisan personil BKO.

Tak berselang lama, apel penyambutan pun selesai digelar, barulah Fitriani mendekat dan mengambil tempat tepat di samping Reza. Terlihat Fitriani menggandeng tangan kiri suaminya, pada kondisi tersebut, tangis dan senyum silih berganti muncul pada raut muka Fitriani.

“Alhamdulillah, bapak pulang dengan selamat,” kata Fitri kepada terkini.id.

Empat bulan lamanya, Fitriani ditinggalkan suami karena tugas negara, tentu itu merupakan waktu yang lama baginya.

Apalagi saat pertama kali Reza melaksanakan tugas negara di Papua, kondisi Fitriani tengah mengandung anak ketiga dengan usia kandungan memasuki delapan bulan.

“Saat bapak menerima tugas negara saya sedang hamil delapan bulan. Mau atau tidak mau bapak harus berangkat ke Papua karena ini demi negara,” kenang Fitri.

Setelah kepergian Reza ke Papua, dia (baca: Fitri) hanya bisa berserah diri kepada Tuhan dan mendoakan sang suami agar diberi kesehatan dan keselamatan dalam menjalankan tugas.

Yang membuat Fitriani merasa berat melepas kepergian Reza ke tanah Papua karena kondisi kehamilannya. Ia ingin kelahiran anak ketiganya didampingi oleh sang suami, tapi harapan memang selalu tidak berbanding lurus dengan kenyataan.

“Awalnya agak berat ditinggal suami, saya dulu berharap kelahiran anak ketiga ingin didampingi oleh suami. Tapi ya, lagi-lagi tugas negara lebih penting. Saya hanya bisa sabar dan terus berdoa kepada Tuhan,” kata dia sambil menyeka air matanya.

Hari ini, Rabu 12 Desember 2019 untuk pertama kalinya, Reza melihat dan berkumpul dengan sanak. Meski tanpa ia saksikan kelahiran anak ketiganya, itu telah menjadi karunia dan hadiah terindah dari Tuhan.

Komentar

Rekomendasi

Sunda Empire Ancam Seluruh Negara di Dunia Jika Tak Daftarkan Ulang Masa Pemerintahannya

PP Muhammadiyah Keluarkan Fatwa Haram Untuk Vape, Ini Tanggapan MUI

Karyawati Ini Rekam Aksi Pria Onani di Mobil, Videonya Disebarkan Biar Pelaku Kapok

Ramai Soal Virus Corona di Wuhan, Begini Penjelasan Direksi Garuda Indonesia

Nelayan Cari Petani Rumput Laut yang Tenggelam, BPBD Jeneponto Jadi Penonton

Hendak Melihat Rumput Laut, Seorang Warga Jeneponto Dikabarkan Tenggelam

Imlek 2571, Owner BenZ Café: Semoga Tahun Tikus Membawa Berkah untuk Kita Semua

Begini Harapan Vivi AM Haryono di Tahun Baru Imlek 2571

Diperiksa KPK, Ini Pembelaan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto soal Harun Masiku

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar