Terkini.id, Jakarta– Kita ketahui BPJS Kesehatan dibuat oleh pemerintah untuk menjamin kesehatan bisa didapatkan seluruh warga negara Indonesia.
Kesehatan memang menjadi hak dasar yang melekat pada kedirian warga negara dan pemerintah wajib untuk menjamin hak tersebut.
Menariknya, tujuan dari pemerintah untuk menyelenggarakan BPJS Kesehatan agar kesehatan rakyat Indonesia terjamin, berbanding terbalik dengan kasus mengenaskan yang terjadi di kota Bulukumba.
Diketahui seorang pria bernama Amiluddin meninggal karena harus mengurus kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat mengurus BPJS Kesehatan
Seperti dilansir dalam akun YouTube tvOneNews pada 16 Maret 2022, Alimuddin ingin mempunyai BPJS Kesehatan agar bisa melakukan operasi untuk penyakit usus yang dideritanya.
- RS UIN Alauddin Resmikan Kerja Sama Pelayanan dengan BPJS Kesehatan
- RS UIN Alauddin Resmi Layani Pasien BPJS, Siapkan 70 Tempat Tidur dan Standar KRIS
- Aliyah Mustika Ilham Dukung Program BPJS Kesehatan Masuk Kampus di Unhas
- MoU Lintas Sektor, Unismuh Makassar Fokus Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa
- Dihadiri Komisi E DPRD Sulsel, Pemda Sidrap dan BPJS Kesehatan MoU PBPU
Keluarga Alimuddin, Sri Suryani Ningsih memberikan penjelasan bahwa Amiluddin telah keluar dari rumah sakit dan diberikan waktu mengurus KTP sebagai syarat memiliki BPJS Kesehatan untuk persiapan operasinya.
“Sebenarnya ini pasien, eh sebenarnya sudah keluar dari rumah sakit karena diberikan waktu oleh dokter untuk urus BPJS dulu untuk persiapan operasinya, karena pasien tidak punya KTP makanya saya datang lobi di Capil” Ujar Sri Suryani Ningsih dalam kanal YouTube tvOneNews, dilihat pada Kamis, 17 Maret 2022.
Tentu kita bertanya-tanya, ada apa sebenarnya sehingga pak Amiluddin bisa kehilangan nyawa hanya karena mengurus persoalan administrasi.
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Kadisdukcapil) Bulukumba Andi Mulyati Nur, memberikan klarifikasi atas meninggalnya pak Amiluddin saat mengurus KTP.
Menurut Andi Mulyati, awalnya proses pembuatan KTP Amiluddin berjalan lancar tetapi setelah melakukan perekaman biometrik sidik jari dan tanda tangan, pak Amiluddin seketika lunglai.
“Pas kami melakukan perekaman itulah habis perekaman geometrik, habis sidik jari, habis tanda tangan, yang bersangkutan langsung lunglai, jadi Amiluddin ini saya minta untuk diangkat turun ke kursi lalu eh saya tuntut, saya sendiri yang tuntun untuk mengucapkan eh kalimat-kalimat tauhid sampai betul-betul menghembuskan nafas terakhir” Tegas Andi Mulyati dalam kanal YouTube tvOneNews, dilihat pada Kamis, 17 Maret 2022.
Kasus yang terjadi pada pak Amiluddin ini menyadarkan kita bahwa ada suatu paradoks di sini.
BPJS kesehatan dibuat untuk menjamin kesehatan warga negara Indonesia, tetapi di saat yang bersamaan ada warga negara yang meninggal akibat mengurus administrasi untuk mendapatkan BPJS kesehatan.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
