Terkini.id,Jeneponto – Kabupaten Jeneponto memiliki tradisi, budaya, serta kuliner yang berbeda dengan 24 Kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Kuliner khas Butta Turatea cukup unik. Pasalnya, bahan dari kuliner khas coto dan gantala dari daging kuda itu berasal dari hasil ternak dan petani warga Jeneponto yang diperjualbelikan di pasar tradisional di Bumi Turatea.
Pasar kuda Tolo, merupakan pasar kuda terbesar di Sulawesi Selatan. Dan bumbu coto kuda pun diracik dari hasil tani para petani di kecamatan Rumbia.
Di Pasar Kuda Tolo Kecamatan Kelara Kabupaten Jeneponto setiap hari Sabtu itu, kita dapat menyaksikan transaksi jual beli kuda, khususnya bagi penjual daging kuda yang memiliki pelanggan daging kuda untuk diolah menjadi coto dan gantala.

Kuda merupakan salah satu komoditas utama di kabupaten Jeneponto, yang sebagian besar warga lokal memelihara kuda untuk diternak.
“Ada 99 persen masyarakat kabupaten Jeneponto juga memiliki tradisi menyantap daging kuda yang menjadi tradisi hidangan dalam menggelar pesta apapun. Selain itu juga dihidangkan di setiap acara pemerintah daerah Kabupaten Jeneponto,” kata Bupati Jeneponto Iksan Iskandar, kepada terkini.id, di Rujab Bupati Jeneponto, Sabtu, 30 November 2019.
- Plh Kadis Kominfo SP Promosikan Kuliner dan Wisata Khas Sulsel di Hadapan Pj Wali Kota Salatiga
- Pallubasa, Kuliner Legendaris yang tak lekang Oleh waktu
- Haraku Ramen Buka Outlet Baru di TSM Makassar, Tawarkan Ramen dengan Harga Terjangkau
- Djournal Coffee dan The People's Cafe Buka di Makassar, Rasakan Sensasi Minum Kopi Susu Pisang
- Di Makassar, Makan di de'Tempong Bisa Ikut Undian Berhadiah Puluhan Juta Rupiah
Kuliner khas kabupaten Jeneponto yang paling terkenal adalah Gantala Jarang dan Coto/Konro Kuda. Gantala Jarang merupakan hidangan tradisional yang terbuat dari daging kuda yang direbus lama ke dalam panci berupa potongan drum lalu ditambahkan dengan bumbu sederhana berupa garam. Gantala Jarang setiap hari tersedia di area pasar tradisional Tolo Kecamatan Kelara.
“Warga Jeneponto merasa kurang lengkap, jika dalam pelaksanaan pesta atau acara apa saja tidak terdapat hidangan Gantal Jarang,” urai Iksan Iskandar.
Rasa serta aromanya sangat khas, sangat berbeda dengan Coto Kuda.
“Gantala Jarang ini merupakan menu wajib dibuat pada saat sedang ada acara besar seperti pesta pernikahan, sunatan atau acara penyambutan tamu dari luar daerah, warga dari luar daerah bisa menikmati Gantala Jarang ini di Tolo Kecamatan Kelara,” kata Iksan.
Selain kuliner khas gantala Jarang, kuliner daging kuda dapat menggiurkan untuk dapat kita santap di Butta Turatea yakni Coto Kuda dan Konro Kuda
Kuliner khas Coto Kuda dan Konro Kuda dapat kita nikmati di warung Coto Turatea Belokallong dan warung Coto Nur yang terletak di area jalan poros Jeneponto.
“Warung Coto Kuda itu sudah cukup melegenda bagi masyarakat di kabupaten Jeneponto, Aroma Coto Kuda yang dapat menggugah selera masyarakat Jeneponto maupun dari luar daerah, selain dua warung itu, juga masih banyak warung-warung coto lainnya ada di Jeneponto,” pungkas Iksan Iskandar
Warung Coto Turatea Belokallong milik H. Sukri Daeng Rumpa itu terletak di depan lampu merah Belokallong, Kelurahan Balang Toa, kecamatan Binamu. Ketika berkunjung ke tempat ini, aroma wangi kaldu Coto berbahan dasar daging kuda akan membuat kita tak ingin melewatkan kuliner unik yang satu itu.
“Di warung Coto itu kita dapat memilih jenis isian Coto Kuda pada saat memesan seperti daging maupun jeroan, dia menggunakan daging kuda lokal yang segar,” jelas Bupati Jeneponto dua periode itu.
Namun hidangan Coto Kuda di Warung Coto Kuda Turatea Balokellong ini memiliki aroma yang didominasi bumbu rempah sehingga dapat menutupi bau unik dari daging kuda sehingga aromanya beda dengan Gantala Jarang.

“Semangkuk menu Coto Kuda di Warung Coto Kuda Turatea Belokallong itu harganya yang cukup terjangkau, yakni hanya Rp.35.000/porsinya dan Gantala Jarang harganya hanya Rp 25.000/porsinya.
Menyantap kuliner khas Gantala Jarang dan Coto Kuda serta Konro Kuda bukan hanya untuk melampiaskan rasa keinginan kita untuk menikmatinya, namun daging kuda sangat bermanfaat bagi penikmatnya.
“Dengan menyantap menu hidangan daging kuda dapat menambah energi dan vitalitas. Bukan hanya itu, daging kuda sebagai obat ampuh anti tetanus,”ungkap Iksan Iskandar.
Tradisi menyantap daging kuda di kabupaten Jeneponto ini memang cukup unik dari sisi tradisi serta kuliner.
“Masyarakat Jeneponto tetap melestarikan tradisi ternak kuda, banyak warga yang memanfaatkan kuda untuk menunjang transportasi atau ajang pacuan kuda tradisional, namun juga sebagai salah satu warisan ragam kuliner yang unik di Kabupaten Jeneponto,” sambung Iksan.
Ingin nambah energi dan vitalitas serta mencegah tetanus berkunjunglah ke Jeneponto menikmati kuliner khas Gantala Jarang dan Coto Kuda.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
