Masuk

Jadi DPO KPK, Mardani Maming: Saya Bukan Hilang, Saya Ziarah Wali Songo

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Mardani H Maming akhirnya memberikan tanggapannya setelah sebelumnya dinyatakan hilang oleh KPK ketika dilakukan penggeledahan di apartemen pribadinya di Jakarta.

Mardani Maming menyangkal tudingan bahwa dirinya memiliki niat untuk kabur dari kasus dugaan suap Izin Usaha Pertambangan (IUP) di Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2011 silam.

Mardani Maming mengatakan bahwa dirinya tidak menghilang tapi sedang melakukan kegiatan lain.

Baca Juga: Kado Ulang Tahun Megawati, PDIP Gelar Dapur Umum Cegah Stunting dan Gerakan Merawat Pertiwi

“Beberapa hari saya tidak ada bukan saya hilang, tapi saya ziarah, ziarah Wali Songo,” ujar Mardani Maming di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, dikutip dari kompas.com, Jumat 29 Juli 2022.

Menurut Politikus Partai PDIP tersebut dirinya telah memberikan surat kepada KPK pada Senin 25 Juli 2022 melalui Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBPH PBNU) yang diketahui menjadi kuasa hukumnya.

Isi surat yang diklaim telah diberikan kepada KPK tersebut berisi tentang kesediaannya untuk memenuhi panggilan KPK pada tanggal 28 Juli 2022 setelah gugatan praperadilan selesai.

Baca Juga: Ruang Kerja Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Digeledah KPK, Ada Apa?

Pada Rabu 27 Juli 2022 diketahui putusan sidang praperadilan telah selesai, Mardani Maming langsung mendatangi Gedung KPK untuk memenuhi panggilan KPK.

“Setelah itu, (Saya) balik tanggal 28 sesuai janji saya dan saya hadir,” tutur Mardani Maming.

Setelah ditetapkan sebagai tersangka KPK, Mardani Maming langsung menjadi penghuni jeruji besi di Rumah Tahanan Negara (Rutan) KPK pada Pomdam Jaya Guntur selama 20 hari pertama.

Mardani Maming dalam kasus IUP ini diduga menerima suap sebesar Rp104,4 miliar. 

Baca Juga: Legislator PDIP Yang Sudah Tiga Periode Diminta Naik Atau Turun Kelas

Politikus PDIP ini diduga memperoleh fasilitas serta biaya pembangunan sejumlah perusahaan setelah mengalihkan izin pertambangan dan produksi pertambangan salah satu perusahaan ke PT Prolindo Cipta Nusantara.