Resonansi Beragama

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

RESONANSI atau refleksi keberagamaan tercermin dalam bulan penuh berkah ini, Ramadan mubaraq. Tetapi wajah lain juga turut mewarnai yakni adanya fenomena komersialisasi dan komodifikasi agama menjadi relevan dengan menyimak semarak Ramadan, ditandai geliat aktivitas keagamaan, baik di masjid dan ruang publik lainnya, maupun di media massa, plus media sosial. Pertanyaannya, apakah fenomena tersebut cerminan semakin tingginya kesadaran beragama umat Islam atau sebaliknya.

Ditengarai dalam perspektif lain, justru yang terjadi adalah komodifikasi agama. Konsumerisme dan kapitalisme berjubah agama.

Sejatinya dimaknai sebagai momentum meresonansikan kesadaran beragama. Namun gejala tersebut tidaklah merepresentasikan kesadaran beragama secara paripurna. Tetapi yang terjadi adalah sebuah realitas agama yang terjebak dalam arus komodifikasi dan komersialisasi sehingga mereduksi substansi beragama.

Wajah beragama tercermin semaraknya aktifitas keagamaan dibentang sepanjang Ramadan, patut dijadikan sebagai ruang kontemplasi dan revolusi diri. Tampaknya, fenomena keagamaan tersebut tidak dapat dibaca demikian, sebab nyatanya terendus hal yang kontras.

Pertama, intensitas sebagian besar umat Islam menjalankan amaliah Ramadan sangat sempurna, antusiasias sebagai bentuk refleksi keimanan dan ketaqwaan sehingga larut berfastabiqul khaerat, berlomba dalam kebaikan.

Kecuali itu, sekelompok orang yang intens beraktifitas di mall ke mall shopping Ramadan dengan mengejar discount, lalu mengabaikan perintah puasa. Di tempat tersebut, tidak pelak lagi, jubelan orang yang shopping kemudian “menyerbu” café petanda tak berpuasa meski mengenakan hijab begitu ketat. Tidak sendiri, tetapi bersama keluarga. Sang suami mendampingi istrinya menikmati sajian menu di mall saat yang lain menjalankan ibadah puasa.

Kedua, wajah beragama yang tayang di media juga sarat muatan komodifikasi agama. Betapa nilai fungsi menjadi nilai tukar. Demikian Vincent Mosco “mencurigai” kapitalisme mewabah dalam agama. Selaras dengan teori McDonaldisasi-nya Goerge Ritzer yang mendedahkan muatan teorinya mencakup efesien, kalkulabitas, prediktibilitas dan tenaga manusia dimanjakan teknologi.

Resonansi beragama yang lebih edukatif dan substantive sejatinya menjadi realitas keberagamaan sepanjang Ramadan ini yang didominasi trend komodifikasi agama menjadi problematika beragama yang perlu serasikan dengan efek media dan semarak syiar Islam.

Globalisasi yang didedahkan media dalam ruang publik yang massif meniscayakan agama hadir sebagai penuntun hidup yang tetap berpijak pada dimensi yang benar, bukan menyimpang apalagi mereduksi substansi agama.

Hal mengkhawatirkan kala agama akan terbelenggu dalam hegemoni konsumerisme diikuti komersialisasi agama. Maka tanggung jawab kolektif umat Islam yang utama adalah mengedepanakan pemahaman dan pengamalan agama sesuai ajaran inti sejak awal kenabian rasulullah dan wahyu pertama diturunkan.

Kesadaran beragama sejatinya menjadi pijakan pengamalan agama yang terbebaskan dari arus komodifikasi agama yang sebatas mewujud dalam simbol dan life style. Tetapi tercerminkan dari akhlak mulia sebagai wujud perilaku dengan kesadaran agama secara kaffah. Resonansi beragama tercermin dari keshalehan yang mewujud dalam perilaku keseharian kita.  Semoga!

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

74 Tahun Indonesia, Merdeka dalam Penindasan

TANGGAL 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun.Berbagai macam bentuk kegiatanpun dilakukan dalam rangka
Opini

Memaknai Kemerdekaan Bukan Sekedar Simbolik

TUJUH belas Agustus merupakan momentum bersejarah sepanjang rentetan peristiwa, yang turut menghiasi dalam konsep Indonesia.Euforia kemerdekaan menggema dari berbagai penjuru mendengar teks proklamasi di
Opini

Aktivis Repotlusioner

SEJARAH gerakan mahasiswa secara heroik menggambarkan kecerdasan dan militansi perjuangan mahasiswa dalam menciptakan gerakan massa dengan tujuan memperbaiki kebobrokan tatanan yang ada di Indonesia.Bagi
Opini

Mengapa Pemadaman Listrik Begitu Lama?

DI mana-mana terjadi mati listrik. Di Amerika, Eropa apalagi Indonesia. Penyebabnya yang berbeda.Persoalannya: Seberapa sering.Seberapa luas.Seberapa lama.Ada kalanya sering mati lampu. Itu karena produksi
Opini

Mensegerakan Revisi PP No. 44 Tahun 2015

KEHADIRAN program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan terus memberikan manfaat bagi pekerja kita. Khusus untuk Program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan
Opini

Aspal Buton sebagai Aspal Berongga

Buku hasil adaptasi dari disertasi penulis  yang diselesaikan pada program studi Teknik Sipil Universitas Hasanuddin pada tahun 2018 lalu.Buku ini menganalisis pengaruh penambahan bahan
Opini

Titanium Megawati

"Tulis dong soal pidato Bu Mega di Bali"."Tidak mau"."Menarik lho pak. Apalagi kalau DI's Way yang menulis"."Politik. Sensitif," balas saya."Soal Sengon 1 Triliun itu
Opini

Cara BUMN Tiongkok Berkembang

PADA tahun 2015, pemerintah China melakukan reformasi radikal terhadap BUMN. Dari total 117 BUMN, disusutkan menjadi 98 BUMN saja. Dampaknya bukan hanya pengurangan jumlah BUMN