Akhlak yang Hilang

Akhlak yang Hilang

Firdaus Muhammad
Redaksi

Tim Redaksi

“Yang Hilang Dari Kita: Akhlak”. Begitu judul buku M Quraish Shihab. Moral yang dipraktekan dan diajarkan oleh leluhur dan agama, tidak terlihat lagi dalam keseharian kita.

Ia telah hilang, tegas penulis Tafsir Misbah tersebut. Sejatinya orang-orang yang mesti diteladani kadang kehilangan harga diri karena kehilangan akhlaknya. Bukan pribadi semata yang dimaksud, tetapi nilai-nilai budi pekerti tercerabut dari masyarakat kita.

Sebuah keprihatinan yang butuh perhatian untuk mengembalikan nilai-nilai luhur yang mengajarkan moral.

Mempelajari ilmu akhlak mengarahhkan kita pada pemahaman yang benar sebagai individu dan makhluk sosial. Proses untuk meraih itu butuh ilmu. Buah dari ilmu adalah akhlak.

Nah, ketika akhlak mulai hilang maka yang harus dilakukan adalah mencarinya dan mengembalikannya.

Masyarakat kita makin kehilangan akhlak dan moral. Para ahli membedakan akhlak dan moral. Akhlak diartikan dengan budi pekerti, kelakuan. Moral berarti ajaran tentang baik dan buruk perbuatan atau sikap.

Prinsipnya sama, terkait perilaku melingkupi ucapan dan perbuatan. Semakin banyak orang yang cerdas dalam kata-kata tetapi tidak seiring dengan perbuatan. Inilah realitas yang kita alami bersama.

Keprihatinan lahir kala menengok kelakuan kaum remaja megalami disorientasi di era 4.0 tanpa pendampingan akhlak. Menyimak pergunjingan di media sosial yang diracik dengan kebohongan. Mengaburkan substansi hal baik dan buruk.

Kebaikan kadang dimaknai keburukan begitu sebaliknya. Akhlak itu cerminan jiwa seseorang yang tampak dari cara bicara dan perilakunya. Kalau hanya kata-kata saja tanpa diiringi kelakuan yang patut diteladani, belumlah dapat dinamai pribadi berakhlak mulia.

Problem masyarakat sekarang bukan pada kurangnya orang berilmu tapi problematika umat manusia sekarang adalah ketidakmampuan orang mengamalkan ilmunya, dangkalnya akhlak. Demikian nasehat Anregurutta KH. Sanusi Baco.

Artinya, akhlak sebagai buah dari ilmu justru kehilangan makna. Sebuah tatanan masyarakat menjadi baik jika masyarakat terdiri dari orang-orang berilmu yang mengamalkan ilmunya sehingga terjalin kehidupan harmonis.

Harmonisasi terwujud dengan adanya keselarasan dan keseimbangan hidup. Keseimbangan tercipta karena perpaduan iman, ilmu dan akhlak.

Dalam konteks serupa, gurutta tekankan bahwa nilai dalam masyarakat tidak pernah hilang. Menurutnya, keliru ketika ada pendapat bahwa telah terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat.

Nilai tetaplah nilai, yang bergeser justru adalah akhlak manusia yang menghilangkan makna nilai-nilai dalam dirinya. Maraknya pencurian, kekerasan hingga korupsi. Semua itu cerminan telah kehilangan akhlak.

Kerinduan terhadap lahirnya kembali masyarakat yang merawat tradisi dan nilai-nilai moral yang sejatinya diwarisi dari para leluhur itu, pada dasarnya dapat dilakukan dengan menata kembali pola pendidikan, baik formal maupun informal.

Sekolah kehidupan dalam keluarga dan masyarakat yang sangat menentukan dibanding pendidikan formal. Sejauh ini, pendidikan hanya tertumpu di sekolah secara formal, tapi nilai diabaikan orang tua apalagi tumbuh di masyarakat yang tidak sehat secara moral.

Kondisi begitu menjadi alarm akan hilangnya akhlak. Ini tugas kita semua, mengembalikan akhlak yang hilang.

Firdaus Muhammad,

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.