Memahami Disertasi ‘Cabul’ dengan Kepala Dingin

SETELAH membaca disertasi Abdul Aziz yang sudah tersebar luas di dunia maya (kasihan), berikut review yang bisa saya bagikan kepada teman-teman sekalian. Saya menulisi review ini berdasarkan pemahaman pribadi dan tidak dalam kapasitas mengkritisi (menolak atau menyetujui) karya tersebut, di samping saya pribadi jauh dari kata layak, tentu lebih elok kalau karya ilmiah dikritisi dalam bentuk karya ilmiah lain yang sepadan, bukan sekadar postingan pribadi yang tendensius apalagi gambar-gambar meme yang sarkastis.

Pertama, penulis (Abdul Aziz) memiliki kegelisahan yang sangat besar terhadap isu perbudakan dan penegakan HAM. Menurutnya, eksploitasi seksual di bawah institusi perbudakan masih terjadi hingga saat ini, khususnya di tanah Arab. Bahkan menurutnya eksploitasi tersebut mendapat legitimasi dari ulama tradisionalis di timur-tengah seperti Sheikh Saleh al-Fauzan, anggota Majlis Ulama Senior Arab Saudi. Ia berfatwa bahwa perbudakan merupakan bagian dari ajaran Islam. Seorang Muslim yang berpendapat bahwa Islam melawan perbudakan adalah bodoh, bukan terpelajar. Siapa saja yang mengatakan hal seperti itu adalah kafir. Al-Fauzan bahkan menyatakan bahwa bukan hanya perbudakan itu sah di dalam Islam, tetapi seyogianya dilegalkan di Arab Saudi.

Contoh eksploitasi seksual yang lain yang dikemukan Abdul Aziz adalah kasus-kasus pemerkosaan terhadap perempuan atas nama milk al-yamin (budak). Beberapa tahun yang lalu, ayah dari dua wanita Inggris asal Pakistan melaporkan bahwa putrinya diperkosa oleh geng fundamentalis Muslim di hadapannya di sebuah kota timur Libya Benghazi. Menurut laporan di media Arab, dua perempuan itu diperkosa berdasarkan pada fatwa yang dikeluarkan oleh Salafi Yordania, Sheikh Yasser Ajlouni. Fatwa Ajlouni membolehkan para jihadis untuk melakukan hubungan seksual dengan perempuan yang jatuh sebagai tawanan selama perang.

Kedua, dengan semangat pembebasan terhadap perbudakan, Abdul Aziz menjadikan Muhammad Syahrur sebagai role model. Muhammad Syahrur adalah pemikir muslim asal Suriah yang berpendapat bahwa ayat-ayat tentang budak (milk al-yamin) harus diinterpretasi sesuai dengan keadaan saat ini. Menurutnya, banyak fenomena-fenomena sosial abad ini yang menyebabkan ayat-ayat milk al-yamin harus “diaktifkan” kembali karena telah lama “nonaktif” akibat teori nasikh-mansukh (ayatnya ada di dalam Alquran tapi hukumnya tidak berlaku) yang banyak diyakini ulama klasik kebenarannya. Diaktifkankembalinya ayat-ayat tersebut tentu tidak seperti pemahaman masa klasik yang memaknai milk al-yamin sebagai budak yang bisa digauli, karena memang dulu sistem perbudakan menjadi bagian dari konvensi internasional, berbeda dengan konvensi internasional sekarang yang telah tegas melarang.

Dengan demikian, harus dicari maksud yang tepat dari istilah milk al-yamin pada masa sekarang, karena kalau tidak, maka lambat laun ayat-ayat hukum satu persatu akan hilang (berlakunya) ditelan zaman. Nah, atas dasar itulah Abdul Aziz memaknai milk al-yamin dengan istilah nonmarital. Logikanya, jika dulu berhubungan seksual dengan milk al-yamin yang (dulu) berarti budak/tawanan perang, maka sekarang boleh juga berhubungan seksual dengan milk al-yamin yang (sekarang) berarti nonmarital. Lagi-lagi, alasannya karena ayat Alquran tentang milk al-yamin harus “diaktifkan” kembali setelah lama “nonaktif”.

Ketiga, siapa nonmarital? Disinilah Syahrur memberi kriteria 9 wanita yang halal digauli. Wanita-wanita tersebut harus berasal dari “hubungan kesepakatan” (alaqah at-taradi) yang berbeda dari hubungan suami-istri (alaqah al-zaujiyyah) yang mainstream yang dikenal selama ini, tidak untuk berkeluarga, melanjutkan keturunan, melahirkan anak-anak, warisan, dan lain sebagainya. Hubungan kesepakatan yang dimaksud Syahrur ialah (1) nikah mut‘ah, (2) nikah al-muḥalil, (3) nikah ‘urfi, (4) nikah misyar, (5) nikah misfar, (6) nikah friend, (7) nikah hibah, (8) al-musakanah dan (9) aqad iḥsan. Jadi, ke-9 hubungan kesepakatan ini menurut Syahrur adalah milk al-yamin yang boleh digauli dan bukan termasuk zina. Yang terpenting dalam hubungan kesepakatan tersebut menurut Syahrur adalah adanya ijab dan qabul (akad) karena itulah yang menjadikan hubungan seksual menjadi halal.

Inilah yang dipahami oleh Abdul Aziz sebagai keabsahan hubungan seksual nonmarital. Abdul Aziz yakin, kehadiran konsep milk al-yamin Syahrur yang 9 tadi, akan efektif mampu mendelegalisasi institusi perbudakan sehingga misi Islam yang membebaskan manusia dari belenggu penindasan diharapkan dapat segera terealisir.

Keempat, menurut Abdul Aziz kehadiran konsep Syahrur juga bisa mengurangi kriminalisasi tindakan seksual konsensual, yakni dekriminalisasi delik perzinaan. Terkait dengan krimnialisasi delik perzinahan, ia mengajukan 2 pertanyaan; (1) apakah sedemikian keras dan kejamnya sanksi terhadap pelaku zina dalam hukum pidana Islam?; (2) benarkah hubungan seksual konsensual merupakan delik perzinaan dalam hukum pidana Islam? Jadi, sepertinya Abdul Aziz tidak bermaksud untuk menjawab apakah zina itu halal atau haram, tapi ia bermaksud menjelaskan keunggulan konzep zina (terkait dekriminalisasi perzinaan) yang diajukan oleh Syahrur yang menurut Abdul Aziz relevan dengan hak asasi manusia dan perkembangam hukum tentang kejahatan seksual di masa kontemporer ini.

Kelima, bagaimana konsep zina yang diajukan Syahrur terkait dekriminalisasi delik perzinahan? Dalam sebuah acara tv, Syahrur ditanya, “Anda menghalalkan zina?” “Itu tuduhan yang mengada-ngada,” sangkalnya. Di acara tersebut, Syahrur juga menjelaskan bahwa hubungan seksual yang bisa dikriminalkan atau dikenai hukuman (oleh negara) adalah hubungan seksual yang dilakukan di tempat keramaian atau fasilitas-fasilitas umum, karena itulah zina. Sedangkan hubungan seksual yang dilakukan di tempat tersembunyi (bukan di tempat umum) tidak bisa dihukum karena bukan termasuk zina. Meski demikian, menurut Syahrur, baik hubungan seksual di tempat umum maupun di tempat tersembunyi sama-sama haram (berdosa), tapi perlakuan hukumnya yang berbeda; yang terang-terangan (zina) dihukum (oleh negara), yang sembunyi-sembunyi (bukan zina) tidak dihukum. Negara tidak punya hak untuk mengurusi “dosa” hubungan seksual personal selama tidak dilakukan di tempat umum. Nah, disinilah kaitannya penelitian Abdul Aziz dengan draft RUU KUHP yang hingga saat ini masih menjadi pembahasan yang alot di DPR. Maka wajar disertasi ini viral karena momennya pas.

Akhirnya, saya pribadi mengucapkan terima kasih kepada Abdul Aziz, terlepas dari hasil penelitiannya yang kontroversial, banyak ilmu yang saya dapatkan setelah membaca disertasi berjumlah 397 halaman tersebut. Diskusi pemikiran yang dipaparkan sangat beragam, lengkap beserta dalil-dalinya dari Alquran, Hadis, maupun pendapat para ulama. Sebagai seorang mahasiswa program doktor yg sedang menulis disertasi, saya mampu merasakan ketekunan dan ketelitiannya dalam memaparkan referensi-referensi dan sumber-sumber bacaan yang begitu banyak. Kejujuran Abdul Aziz dalam membuat karya tulis juga patut diacungi jempol, persentase plagiasi tulisannya sangat rendah untuk karya tulis ilmiah setebal itu (saya cek sendiri), hal yang sangat sulit dilakukan peneliti maupun mahasiswa kebanyakan di era “Turnitin” seperti sekarang, termasuk saya. Anda hebat, Pak Abdul Azis!

Wallahu A’lam.
Samarinda, 8 September 2019

H. Fuad Fansuri, Lc., M.Th.I
(Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Samarinda & Mahasiswa Program Doktor Bidang Tafsir UIN Makassar)

Berita Terkait