Penyandang Disabilitas Dalam Bidikan Lensa dan Pemilihan Kata

Penyandang Disabilitas
Jonna Damanik dari Majalah Daffa saat membawakan materi ihwal persepsi disabilitas di media

Terkini.id, Makassar – Seringkali penyandang disabilitas mendapat perlakuan tak adil dari pewarta, sejak dalam bidikan lensa hingga pada pemilihan kata pada berita.

Kondisi tersebut terus berlangsung, kendati semakin hari mengalami perubahan perspektif ke arah yang lebih baik.

Penjelasan itu disampaikan Jonna Damanik dari Majalah Daffa saat membawakan materi ihwal persepsi disabilitas di media. Ia mengaku bahwa dalam pemberitaan masalah disabilitas tak seksi sama sekali.

Dalam pengamatannya, ia menemukan penggalian berita perihal disabilitas cenderung bombastis, akrobatik, dan terlepas dari prosesnya.

“Cakupannya cenderung menyebabkan dikotomi dan diskriminasi karena penggunaan kata yang tak tepat, mengeksploitasi individu,  sehingga bermakna kasihan,” kata Jonna kepada jurnalis di Hotel Swiss Bel, Jalan Ujung Pandang, Makassar, Sabtu, 15 Juni 2019.

Sehingga stigma publik, kata dia, penyandang disabilitas tampak tak memiliki kemampuan untuk berbaur di tengah-tengah masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut menciptakan jarak antara disabilitas dan non-disabilitas.

Jonna minta peliputan penyandang disabilitas berdasarkan prinsip kesetaraan

Pada kesempatan itu, Jonna meminta agar memberi penghargaan dan memanusiakan narasumber dengan memberikan peliputan berdasarkan prinsip kesetaraan.

“Lihat dia sebagai manusia dan lihat dari sudut pandang yang positif dengan menggunakan etika jurnalistik humanis,” simpulnya.

Di tempat yang sama, Lutfi Anandika dari Majalah Diffa berbicara ihwal perspektif disabilitas di mata lensa. Ia menuturkan pentingnya membangun percakapan dengan penyandang disabilitas sebelum mengambil gambar.

“Kebiasan buruk pewarta, seringkali mengambil gambar penyandang disabilitas tanpa meminta izin, dan bahkan tanpa berkenalan terlebih dahulu,” paparnya.

“Foto yang identik memperlihatkan ekspresi kesedihan untuk menimbulkan simpati orang lain, identik menonjolkan kedisabilitasannya, dan seringkali frame alat bantu lebih banyak daripada disabilitas,” sambungnya.

Lutfi pun memperagakan tata cara pengambilan gambar yang berbasis kemanusian terhadap penyandang disabilitas. Ia menyebut, berhadapan dengan disabilitas butuh pendekatan tersendiri.

“Kita harus lebih aktif, memberikan pengarahan dan membangun dialog agar tercipta suasana keakraban,” pungkasnya.

Lutfi pun berharap, kebiasan buruk tersebut berakhir tahun ini.

Berita Terkait
Komentar
Terkini