Peringati Hari Bhakti Rimbawan Ke-36, Satker LHK Sulsel Gelar Upacara

LHK Sulsel
Peringati Hari Bhakti Rimbawan Ke-36, Satker LHK Sulsel Gelar Upacara

Terkini.id, Makassar – Upacara peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-36 dilaksanakan di lapangan Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jalan Perintis Kemerdekaan 18 Makassar, Senin 18 Maret 2019.

Upacara dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan Ir H Muhammad Tamzil MP.

Hadir Kepala P3E Suma Ir Dr Darhamsyah MSi selaku Korwil UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) se-Sulsel, dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel.

Turut hadir Ir Muh Abidin mantan Kepala Tata Usaha P3E Suma. Tak kurang dari 400 peserta menghadiri upacara tersebut.

Peserta upacara berasal dari rimbawan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian LHK Sulsel, di antaranya Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung (Babul), BBKSDA Sulsel, Balai Penegakan Hukum (Gakum) Sulawesi, dan Balai PPI Sulawesi.

Turut menghadiri upacara tersebut, Balai Penelitian dan Pengembangan LHK, Balai BPDAS Jeneberang Saddang, BPTH Wilayah Sulawesi, SMK Kehutanan Makassar, BDLHK Makassar, BPTH Wilayah XIII Makassar, BPKH Wilayah VII Makassar, Balai PSKL Wilayah Sulawesi, P3E SUMA, Manggala Agni DAOPS Gowa, Dinas Kehutanan Sulsel dan Dharma Wanita Kementerian LHK Sulsel.

Pidato Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Pada kesempatan itu, Inspektur (Irup) membacakan pidato Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.

Dalam pidatonya yang dibacakan Irup, Menteri Siti mengatakan bahwa salah satu ekosistem yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan adalah ekosistem hutan.

“Catatan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu yang panjang sejak sistem hutan register dan tata guna hutan kesepakatan (TGHK) hingga hutran menurut konsep tata ruang, telah terjadi evolusi kawasan hutan dari 147 juta ha (1978-1999) dan menjadi 134 juta ha (1999-2009) dan menjadi 126 juta ha (2009 hingga sekarang),” kata Irup, menirukan pidato tertulis Menteri Siti.

Data pada tahun 2014, kata Menteri Siti, menunjukkan bahwa kawasan hutan yang diberikan izin seluas 33,2 juta ha dari total luas kawasan hutan 126 juta ha. Alokasi perizinan kepada swasta mencapai 32,74 juta ha atau 98.53 % dan kepada masyarakat 1.35 %.

“Data pada akhir 2018 menunjukkan bahwa selama tahun 2015-2018 tercatat kawasan hutan yang diberikan izin selua 6,49 juta ha dengan komposisi perizinan swasta 1,57 juta ha atau 24,7%, izin kepada masyarakat 4,91 juta ha atau 75,54%,” terangnya.

Dengan demikian, lanjutnya, terjadi evolusi alokasi dari semula pada periode hingga tahun 2014 dan pada periode 2015-2018.

“Akhir 2018 tercatat area berizin seluas 39,72 juta ha dari total luas kawasan hutan 126 juta ha. Alokasi perizinan untuk swasta seluas 32,7 juta ha atau 86,37%, menurun dari 2014 atau 98,53 % dan areal izin untuk masyarakat seluas 5,4 juta ha atau 13,49% meningkat dari tahun 2014 menjadi 1,35 %,” urai Siti Nurbaya.

Gambaran itu, kata Siti, menunjukan bahwa sedang terjadi dan terus dilakukan langkah-langkah korektif bidang kehutanan dan lingkungan.

“Pokok-pokok koreksi yang dilaksanakan oleh Presiden Joko Widodo di bidang kehutanan difokuskan pada upaya penataan ulang alokasi sumber daya hutan dengan mengedepankan izin akses bagi masyarakat dengan hutan sosial, implementasi secara efektif moratorium penerbitan izin baru di hutan alam primer dan gambut, dan moratorium izin bari perkebunan sawit selama 3 tahun sejak November 2018,” terangnya.

Selain itu, lanjutnya, juga melakukan pengawasan pelaksanaan izin dan mencabut HPH/HTI yang tidak aktif, mendorong kerjasama hutan sosial, membangun konfigurasi bisnis baru, dan mendorong kemudahan izin untuk kepentingan prasarana/sarana seperti jalan, bendungan, energi, telekomunikasi, dan pemukiman masyarakat.

Pada kesempatan itu, Menteri Susi juga berpesan pada peringatan Hari Bhakti Rimbawan saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk kita melakukan refleksi, menggali inspasi, motivasi dan berbagai inovasi dalam kiprah kerja di bidang lingkungan hidup dan kehutanan.

“Rimbawan adalah sosok yang kuat dalam identitas, skill, perspektif berpikir, solidaritas dan bergotong-royong. Rimbawan juga sosok yang teguh dan tangguh, kuat serta displin dalam kerja dan pantang surut hadapi tantangan lapangan,” ujarnya.

“Patriot, keberanian dan dedikasi dalam menjaga lingkungan dan hutan kita, sungguh-sungguh bermakna demi masa depan negara dan bangsa,” tegas Siti Nurbaya mengakhiri pidato sambutannya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini