Masuk

Pernyataan Komnas HAM Soal Gas Air Mata Beda dengan Polisi: Tunggu Hasil Laboratorium

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memberikan pernyataan yang berbeda dengan polisi terkait gas air mata, Kamis 13 Oktober 2022.

Dalam tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132  korban jiwa, menimbulkan sejumlah dugaan penyebab meninggalnya korban tersebut, termasuk penggunaan gas air mata diduga sebagai penyebab korban tewas.

Terkait hal itu, Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara mengatakan ingin menunggu hasil uji laboratorium sebelum berbica tentang dampak gas air mata.

Baca Juga: Pernyataan Mahfud MD Dikecam Oleh Koalisi Masyarakat Sipil

“Sebenarnya begini, kalau kita bicara soal hasil laboratorium itu kan bukan hanya sekadar kandungan kimianya. Tapi analisanya terhadap kesehatan, itu kami menunggu dari hasil uji laboratorium,” ucap Beka kepada wartawan di kantor Komnas HAM, Jakarta pada Rabu 12 Agustus 2022 kemarin.

Di samping itu, Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam lebih menemukan korban meninggal dengan wajah membiru, kejang-kejang hingga mengeluarkan busa.

“Jadi, kami banyak cerita-cerita soal begitu dan terekam juga oleh teman-teman kedokteran. Termasuk juga orang-orang yang mengalami kejang-kejang,” ucapnya.

Baca Juga: Soroti Kasus Paniai Divonis Bebas, Komnas HAM Minta Jaksa Agung Segera Bertindak

Selain itu, korban selamat didapati baru bisa melihat setelah beberapa hari tragedi Kanjuruhan, ada juga yang mengalami mata berwarna coklat hingga merah.

“Ada bahkan, kami Senin itu bertemu dengan salah satu korban. Misalnya, dari Sabtu peristiwanya, sampai Minggu. Senin ketemu kami agak sore. Itu baru saja matanya bisa melihat,” bebernya.

“Kalau diperlukan, kami memang akan memanggil ahli kesehatan. Tapi sepanjang yang kami dapatkan dari berbagai cerita korban, kedokteran yang ada di Malang sana menunjukkan bagaimana itu berlangsung,” sambungnya.

Diketahui sebelumnya, Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Dedi Prasetyo menegaskan, kematian korban tragedi Kanjuruhan bukan dikarenakan penggunaan gas air mata, tetapi karena terinjak-injak dan kekurangan oksigen.

Baca Juga: Komnas HAM: Kesimpulan Kami, Gas Air Mata Penyebab Utama Tragedi Kanjuruhan

“Dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan juga spesialis penyakit mata, tidak satu pun yang menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah gas air mata,” ujarnya Dedi kepada wartawan pada Senin 10 Oktober 2022 silam.

“Tapi penyebab kematian adalah kekurangan oksigen, karena apa? Terjadi berdesak-desakan, terinjak-injak, bertumpuk-tumpukan mengakibatkan kekurangan oksigen,” sambungnya.

Dia juga menegaskan hingga saat ini, belum ada jurnal yang menyebut penggunaan gas air mata bisa menyebabkan seseorang meninggal.

“Sampai saat ini belum ada jurnal ilmiah yang menyebutkan ada fatalitas gas air mata yang mengakibatkan orang meninggal dunia,” pungkasnya.