Ramadan di Eindhoven

Ramadan di Eindhoven

HZ
Firdaus Muhammad
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

KOLOM bertajuk “Tali Cinta Ramadan” edisi Sabtu, 11 Mei 2019, rupanya diakses Mutmainnah Sudirman, salah seorang sahabat yang kini kuliah di Universitas Eindhoven, Belanda.

Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Alauddin Makassar itu, dengan bernada bercanda, tulisan ihwal kebesaran cinta seorang ibu atau ayah tak terukur takaran apapun.

Demikian sebaliknya, cinta anak pada kedua orang tua juga tak terkira,  itu membuatnya baper (bawa perasaan) sebab ia jauh dari anak-anak dan suaminya di Makassar.

Lebih lanjut ia mengisahkan suka dukanya menunaikan Ramadan di negeri Kincir Angin. Misalnya soal waktu puasa berbeda di Makassar, imsak di Belanda pukul.

Pukul 03.30 dan berbuka puasa pukul 21.30 berubah setiap hari. Berpuasa selama 18 jam bahkan akhir Ramadan hingga 19 jam tergolong berat karena kegiatan perkuliahan tidak berbeda sebelum Ramadan.

Mutmainnah sementara menyelesaikan program doktor di Universitas Eindhoven pada konsentrasi Fisika Bangunan (Building Physics). Di Eindoven terdapat komunitas Musihoven (Muslim Eindoven) gabungan mahasiswa dan orang Indonesia yang sudah menjadi warga Netherlands.

Menurutnya, di Musihoven itu aktif menggelar pengajian-pengajian bulanan kalau pas Summer tapi kalau Winter libur. Ada juga buka puasa bersama setiap hari Sabtu selama Ramadan. Lebih lanjut, dosen kelahiran Sidrap ini mengaku, jika Ramadan kali ini lebih berat dari dua tahun yang telah dilaluinya.

Beratnya karena winter tak mau berlalu meski sebenarnya harusnya sudah masuk  autum.  Ia biasanya tarwih di Masjid Turki namanya Alfatih. Tarwih dimulai 23.30 selesai 01.00 dengan suhu pada malam hari sekitar 4 derajat.

Berada jauh dari keluarga kecilnya, tetapi selalu terobati kerinduannya. Setiap ia buka puasa waktu Belanda, di Makassar justru waktu sahur. Saat itu cukup tepat untuk video call dengan anak-anaknya dan keluarga lainnya.

Kota Eindhoven biasa disebut kota Philips karena pusatnya perusahaan Philips. Ramadan di Eindhoven melahirkan banyak berkah baginya, sekalipun tidak ada perbedaan dengan sebelum Ramadan di kampus itu, tetapi sahabat-sahabatnya sangat toleran.

Seorang temannya, justru Atheis asal India tetapi membuatkannya masakan nasi goreng ala India, dijamin halal, tegasnya.

Komunitas mahasiswa yang aktif puasa hanya yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Maroko. Di kampus yang cukup asri itu, terdapat komunitas muslim bernama “Salaam”, kamunitas gabungan mahasiswa muslim dari berbagai Negara.

Ia juga pernah bertemu di Ramadan tahun lalu dengan Ahmad Yani Dosen Unhas yang justru waktu itu puasa hingga 20 jam. Kisah demi kisah Ramadan dari seorang sahabat yang kini berada di luar negeri yang minoritas muslim, cukup berbeda dengan kesemarakan Ramadan di Indonesia.

Ia selalu merindukan Ramadan bersama keluarga di Makassar. Akan indah pada waktunya vriend.

Firdaus Muhammad

Dosen UIN Alauddin Makassar

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.