Maka ketika etika diinjak-injak oleh oknum di lingkungan yang ia pimpin, Muammar memilih berdiri di garis depan, meski risikonya besar.
Kasus ini menjadi cermin bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Bahwa kampus bukan menara gading yang kebal kritik, tetapi ruang teladan. Bahwa dosen bukan hanya pengajar ilmu, melainkan penjaga adab. Dan bahwa pemimpin sejati diukur bukan dari pidato, melainkan dari keputusan sulit yang ia ambil saat nilai diuji.
Di tengah krisis keteladanan, langkah Prof. Dr. KH. Muammar Bakry memberi pesan jelas: keadilan etik tidak boleh kalah oleh senioritas, dan marwah kampus tidak boleh dikorbankan demi kenyamanan.
Dalam diam sidang etik dan ketegasan keputusan, Muammar menunjukkan satu hal penting—bahwa heroisme sejati terkadang tidak berteriak, tetapi berdiri tegak ketika yang lain memilih menunduk.(terkini.id/gpt)
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
