Masuk

Singgung Kasus Tiga Anak di Luwu Diperkosa, LBH: Banyak Keanehan

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar ikut angkat bicara soal penghentian kasus tiga anak di Luwu diperkosa yang belakangan ini menjadi perbincangan publik Tanah Air.

LBH Makassar yang mendampingi kasus tiga anak di Luwu yang diduga diperkosa oleh ayah kandung mereka itu, menyebut terdapat sejumlah keanehan atas penghentian penyelidikan dari laporan ibu kandung korban.

Hal itu disampaikan Wakil Direktur LBH Makassar, Azis Dumpa. Ia mengatakan, ibu korban telah melaporkan aksi pencabulan tersebut sejak Oktober 2019.

Baca Juga: Pemda Kepulauan Seribu Digugat Masyarakat Karena Ogah Tempati Kantor Kerjanya

Meski penyelidikan dilakukan, kata Azis, namun keanehan terjadi dimana proses penyelidikan langsung dihentikan dua bulan setelahnya.

Menurutnya, tercatat pada 10 Desember 2019 Polres Luwu Timur mengeluarkan surat perintah penghentian penyelidikan (SP3) kasus tersebut.

Oleh karena itu pihaknya menduga sejak awal proses penyelidikan kasus tersebut sudah terjadi malprosedur sehingga tak layak dikeluarkan SP3.

Baca Juga: Ganjar Pranowo Klaim Warga Desa Wadas yang Ditangkap Justru Ketawa-Ketawa Saja, LBH: Mereka Sangat Merasa Trauma ….

“Tidak layak dihentikan, karena sejak awal proses penyelidikannya memang terjadi malprosedur, artinya memang terkesan ada keberpihakan kepada terlapor sejak awal,” kata Azis Dumpa, Jumat 8 Oktober 2021 seperti dikutip dari CNN.

Tak hanya terkait SP3 yang dikeluarkan Polres Luwu, LBH Makassar juga menemukan adanya keanehan yang menjurus pada malprosedur.

Menurut Azis, pihaknya telah menemukan adanya keberpihakan pada terlapor seperti terlapor merupakan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Luwu Timur.

“Kami sudah mengadukan itu kepada P2TP2A Luwu Timur karena itu melanggar, pelaku itu ASN. Waktu itu ternyata yang memeriksa korban di P2TP2A di sana itu berteman dengan terlapor sehingga memanggil terlapor. Jadilah banyak keanehannya,” ungkapnya.

Baca Juga: Polri Minim Bukti Kasus Ayah Perkosa 3 Anak di Luwu, LBH Buka Suara Soal Pengakuan Korban

Azis juga membeberkan keanehan lainnya yakni soal proses penyelidikan kasus itu yang terbilang singkat sejak dilaporkan ibu korban di Polres Luwu Timur pada Oktober hingga dihentikan polisi pada Desember 2019.

“Pemeriksaannya hanya dua bulan, itu cukup aneh. Padahal, itu masih cukup waktu untuk didalami. Seolah-olah karena mereka telah bercerai dan itu sebagai balas dendam kepada suaminya, tapi kan ini tidak ada hubungannya,” ujar Azis.

Selain itu, pihak LBH juga menilai ada keanehan pada saat ibu dari tiga anak yang diperkosa itu diperiksa oleh psikiater dari P2TP2A Luwu Timur. Pasalnya, hanya dalam waktu 15 menit rekomendasi dari psikiater itu sudah keluar.

“Pemeriksaan juga malprosedur masa 15 menit sudah ada hasilnya, itukan sudah melanggar. Padahal pemeriksaan psikiater itu ada tahap-tahapnya, dan itu membutuhkan waktu. Tapi itu pertanyaan yang kritis kok ibunya yang diperiksa kan aneh, terus korban hanya diperiksa sekali,” ujarnya.