Sudah 48 Kali Gempa di Halmahera Selatan, Warga Diminta Jauhi Bangunan Retak

Terkini.id, Makassar – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 mengguncang wilayah Labuha, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, hingga Minggu malam 14 Juli 2019.

Setelah gempa tersebut, hingga tadi malam BMKG mencatat sudah 48 kali aktivitas gempa bumi susulan (afteshock).

“Hingga pukul 23.00 WIB, Hasil monitoring BMKG menunjukkan 48 kali aktivitas gempabumi susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M=5.8 dan magnitudo terkecil M=3.1. 28 gempa diantaranya dirasakan,” jelas informasi resmi BMKG.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

BMKG juga meminta masyarakat di Halmahera Selatan, agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.

“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan, sebelum anda kembali kedalam rumah,” jelasnya lagi.

Jauhi Bangunan Retak

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Ternate, Kustoro Heriyatmoko mengatakan, puluhan gempa yang terjadi itu ada yang dirasakan getarannya dan ada pula yang tidak.

Akibat Isu Tsunami

Sore sekitar pukul 6 sore terjadi gempa dengan kekuatan 7,2 SR ….gempa yg berpusat di halmahera selatan tersebut,juga dapat di rasakan oleh warga ternate dan sekitarnya akibat gempa tersebut muncul isu Tsunami yang membuat warga ternate berhamura untu mencari dataran tinggi untuk menyelamatkan diri….Sebagian warga kembali ke rumah setelah mendapat kabar bahwa keadaan air laut aman…..

Dikirim oleh Andik Haryadi pada Minggu, 14 Juli 2019

Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya menyampaikan, warga masyarakat agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
Dikhawatirkan masih terjadi gempa susulan yang kekuatannya signifikan.
“Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan, sebelum anda kembali ke dalam rumah,” kata Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono seperti dilansir dar idetikcom, Senin 15 Juli 2019.

Berdasarkan peta tingkat guncangan (shake map), menurut Daryono, gempa di Pulau Bacan termasuk gempa yang berpotensi merusak.

Daryono menjelaskan gempa mencapai skala intensitas VII-VIII MMI.

“Intensitas gempa sebesar ini dapat terjadi kerusakan dalam tingkat sedang hingga berat. Estimasi model ini ternyata benar, laporan terbaru menunjukkan bahwa gempa yang terjadi menimbulkan banyak kerusakan bangunan rumah. Tercatat sedikitnya 160 bangunan rumah mengalami kerusakan,” ujar dia.

Daryono juga memberikan penjelasan terkait penyebab gempa M 7,2 yang mengguncang Pulau Bacan. Wilayah Halmahera Selatan, menurut Daryono, termasuk kawasan seismik aktif dan kompleks.

“Aktif artinya kawasan Halmahera Selatan memang sering terjadi gempa yang tercermin dari peta seismisitas regional dengan klaster aktivitas gempanya cukup padat,” imbuh Daryono.

Kompleks yang dimaksud BMKG adalah kawasan Halmahera Selatan mempunyai empat zona seismogenik sumber gempa utama. Ada tiga sistem sesar yang berada di kawasan tersebut.

“Disebut kompleks karena zona ini terdapat 4 zona seismogenik sumber gempa utama, yaitu Halmahera Thrust, Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan. Adapaun ketiga sistem sesar: Sesar Sorong-Sula, Sesar Sorong-Maluku, dan Sesar Sorong-Bacan merupakan ‘percabangan’ atau splay dari Sesar Sorong yang melintas dari timur membelah bagian atas kepala burung di Papua Barat,” ujar Daryono.

Daryono menuturkan gempa M 7,2 di Halmahera Selatan dipicu oleh Sesar Sorong-Bacan. Sesar tersebut selama ini meyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang terpatahkan sebagai gempa pada kemarin sore.

“Di Pulau Batanta, ke arah barat Sesar Sorong mengalami percabangan. Pada percabangan yang paling utara yaitu Sesar Sorong-Bacan inilah yang selama ini menyimpan akumulasi medan tegangan kulit bumi yang akhirnya terpatahkan sebagai gempa berkekuatan M 7,2 yang terjadi kemarin sore. Sesar Sorong-Bacan inilah pemicu gempa Halmahera Selatan,” ujar dia.

Dalam catatan BMKG, gempa kuat dan merusak di Halmahera terbilang cukup banyak. Berikut ini daftaanya:

1. Gempa Pulau Raja 7 Oktober 1923 (M=7,4) dampak VIII MMI
2. Gempa Bacan 16 April 1963 (M=7,1) skala intensitas VIII MMI
3. Gempa Pulau Damar 21 Januari 1985 (M-6,9) dampak VIII MMI
4. Gempa Obi 8 Oktober 1994 (M=6,8) dampak VI-VII MMI
5. Gempa Obi 13 Februari 1995 (M=6,7) dampak VIII MMI
6. Gempa Labuha 20 Februari 2007 (M=6,7) dampak VII MMI.

Berita Terkait
Komentar
Terkini