Masuk

Ubedilah Badrun Ceritakan Perihal Undangannya ke Kantor KPK

Komentar

Terkini.id, JakartaUbedilah Badrun, seorang Dosen Universitas Negeri Jakarta menceritakan perihal dirinya yang memenuhi undangan KPK, terkait dengan klarifikasi atas laporannya yang ditujukan untuk kedua anak Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ia mengatakan bahwa proses klarifikasi berlangsung selama dua jam lamanya, yang bertempat di markas KPK, Kuningan, Jakarta Selatan.

Ia menuturkan bahwa pertanyaan yang diberikan juga seputar laporannya, untuk menguatkan argumen pelaporan untuk Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep atas dugaan kasus pidana pencucian uang.

Baca Juga: Buntut Usulan Gibran Jadi Cawapres Anies, Nasdem Sindir Demokrat Kebakaran Jenggot

“Memang panjang diskusinya hampir 2 jam. Jadi diundang untuk klarifikasi tentang pengaduan pelaporan saya yang di KPK itu. Tentu saja di dalam klarifikasi itu menanyakan hal-hal terkait laporan saya. Untuk memperkuat alasan-alasan dan argumen,” kata Ubed kepada wartawan, yang dikutip dari CNN Indonesia pada  Kamis, 27 Januari 2022.

Ubedilah mengaku tidak bisa menceritakan secara detail, mengenai pertanyaan dan jawaban yang ia berikan kepada pihak KPK. Ia juga tidak menghitung berapa total pertanyaan yang diberikan padanya.

“Intinya mendiskusikan memperjelas soal dugaan gratifikasi atau suap dalam pola baru, sampai pada soal dugaan terkait TPPU itu. Termasuk gratifikasi dalam bentuk lain menyangkut elite. Itu umumnya saja. Yang lebih dalam saya enggak  bisa bicarakan ke publik,” ujarnya.

Baca Juga: Soal Pertemuannya Dengan Anies, Gibran: Saya Pingin Banyak Belajar, Masih Pemula di Dunia Politik

Selain untuk menjawab perihal pertanyaan KPK, Ubedilah juga mengatakan bahwa dirinya juga sekaligus mengumpulkan berkas-berkas tambahan untuk memperkuat laporannya.

Sekali lagi, Ubedilah Badrun enggan untuk menceritakan secara detail berkas apa saja yang diberikan kepada KPK. Ia juga menuturkan bahwa pembuktian atas laporannya tidaklah memakan waktu yang sebentar.

“Karena ini butuh waktu yang tak sebentar. Butuh waktu lama. Karena ini lihat dari satu keganjilan ke keganjilan lain butuh pendalaman. Jadi publik harus sabar nunggu proses ini,” pungkasnya.