Terkini.id — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan bersama sejumlah lembaga masyarakat sipil meluncurkan Posko Aduan Aktivitas Ilegal yang Merusak Lingkungan.
Langkah ini diambil untuk menampung laporan warga terkait praktik-praktik perusakan alam seperti tambang ilegal, alih fungsi lahan, dan pembukaan kawasan tanpa izin yang marak di berbagai daerah.
Direktur WALHI Sulsel, Muhammad Al Amin, mengatakan posko tersebut menjadi wadah bagi masyarakat yang selama ini kesulitan melaporkan aktivitas ilegal.
“Kami ingin memastikan masyarakat punya ruang aman untuk melapor,” ujarnya.
Menurut Amin, praktik penambangan dan perkebunan ilegal tidak hanya memperparah krisis ekologis, tetapi juga menggerus pendapatan negara. Ia menilai lemahnya penegakan hukum membuat aktivitas ini terus berulang.
- Muzayyin Arif Minta Kubu Mufassir Tunjukkan Bukti Tanah Wakaf Pesantren yang Dijual
- Rural ICT Camp 2026 di Maros Dorong Teknologi Digital untuk Perkuat Ketahanan Pesisir
- Inovasi Rewata, Bupati Jeneponto Serahkan Adminduk Bayi Baru Lahir di RSUD Lanto Daeng Pasewang
- Pertanian Bone Bersiap Naik Kelas, Polbangtan Kementan Bawa Solusi SDM dan Teknologi
- 702 Batang Kayu Besi Ilegal Diselundupkan dari Buton, Gakkumhut Sulawesi Kantongi Nama Pemilik dan Pembeli
“Banyak tambang ilegal dibekingi aparat. Negara rugi, rakyat menderita,” katanya.
WALHI berjanji akan memverifikasi setiap laporan yang masuk dan mengawalnya hingga ke tingkat penegakan hukum. Identitas pelapor, kata Amin, akan dijaga ketat untuk mencegah intimidasi atau serangan balik dari pihak yang dilaporkan.
Koalisi masyarakat sipil ini melibatkan sejumlah organisasi, termasuk PBHI Sulsel, LPA HPPMI Maros, Yayasan Peduli Lingkungan, dan Lapar Sulsel. Mereka menilai dampak kejahatan lingkungan sudah sangat dirasakan masyarakat kecil—mulai dari petani, nelayan, hingga buruh.
“Banjir di Palopo dan bencana lain di Sulsel adalah bukti nyata dari aktivitas ilegal yang tidak terkendali,” kata Wiwin dari Lapar Sulsel.
Di wilayah pesisir dan pegunungan, kerusakan lingkungan semakin terlihat. Rais dari Yayasan Peduli Lingkungan menyebut praktik penebangan liar terus terjadi di sekitar DAS Jeneberang dan Bili-bili, bahkan di tepi sungai.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
