Sulsel Menuju Momentum Politik di Tengah Kerusakan Lingkungan, Proyek Transisi Energi Palsu dan Hilirisasi Nikel

Sulsel Menuju Momentum Politik di Tengah Kerusakan Lingkungan, Proyek Transisi Energi Palsu dan Hilirisasi Nikel

K
R
Kamsah
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Makassar – Sulawesi Selatan pada tahun 2023 merasakan kekeringan berkepanjangan. Berdampak terhadap penurunan jumlah pangan hingga gagal panen. WALHI Sulsel, pada catatan akhir tahun, menyebut setidaknya ada 153 ha lahan pertanian mengalami gagal panen.

Selain gagal panen beberapa DAS (Daerah Aliran Sungai) mengalami kekeringan dan alih fungsi tutupan lahan. Sedangkan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, RTRW Sulawesi Selatan masih melegitimasi tambang pasir laut dan zona reklamasi yang jelas telah memberikan dampak buruk bagi masyarakat.

Hingga saat ini masyarakat pesisir dan pulau-pulau khususnya di Pesisir Galesong dan Pulau Kodingareng telah merasakan dampak buruk tambang pasir laut. Seperti degradasi lingkungan berupa rusaknya wilayah tangkap, abrasi, hingga pemiskinan karena kondisi laut tidak lagi seperti dulu.

Pesisir Bantaeng juga tercemar akibat aktivitas smelter yang tak mempertimbangkan kesehatan lingkungan. Limbah smelter mengandung zat kimia berbahaya terkontaminasi di beberapa sumber air masyarakat.

Kepala Divisi Hukum dan Politik Hijau WALHI Sulsel, Arfiandi menuturkan pihaknya mencatat potret krisis iklim dari hulu hingga ke hilir yang dirasakan mulai pertengahan tahun 2023 hingga saat ini. Selain fenomena alam seperti El Nino, masifnya perusakan lingkungan oleh industri ekstraktif turut memperburuk keadaan lingkungan hidup di Sulawesi Selatan.

Baca Juga

“Krisis iklim juga berpengaruh terhadap tata kelola kelistrikan,” tuturnya.

Meskipun di Sulsel terdapat banyak pembangkit listrik tetapi kekeringan mempengaruhi kinerja pembangkit listrik utamanya PLTA. WALHI Sulsel juga mengamati bahwa korporasi banyak memonopoli sumber daya alam untuk kepentingan bisnis. Sebut saja smelter milik Huadi Alloy Nickel yang diduga banyak menyerap sumber air dan listrik untuk operasional smellter.

Pemiskinan Rakyat Akibat Industri Ekstraktif

Arfiandi menyatakan bahwa Industri ekstraktif tidak hanya mempengaruhi degradasi lingkungan. Tetapi juga merupakan faktor utama krisis iklim. Kekeringan berkepanjangan karena deforestasi, kehilangan lahan penyangga air, dsb turut menjadi penyebab kemiskinan. Selain kehilangan lahan untuk kebutuhan korporasi seperti tambang dan pembangunan smelter, degradasi lingkungam menyebabkan banyak petani, petambak, nelayan tidak mendapatkan pemasukan dari hasil alam.

“Kegiatan industri yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dan kesejahteraan masyarakat menyebabkan peningkatan kemiskinan. Tidak berpihaknya kebijakan terhadap masyarakat juga turut menjadi penyebabnya,” ujarnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.