Warung Bertirai

Warung Bertirai

HZ
Firdaus Muhammad
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

SALAH satu pemandangan di siang hari pada pertengahan bulan Ramadan ini, berupa warung bertirai. Warung bertirai adalah warung yang dibuka di siang hari saat umat Islam berpuasa dengan menggunakan tirai, miris. Di depan warung terparkir kendaraan motor dan mobil.

Para pemiliknya asyik masyuk menikmati santapan siang, kala yang lain berpuasa. Tirai digunakan untuk menutupi aktifitas tersebut, sekalipun mudah ditebak dari luar, saat melintas akan adanya acara “berbuka puasa” di siang hari. Astagfirullah !

Di mall juga demikian, banyak antrian pesan makan siang. Seperti tidak ada beda Ramadan dan bukan Ramadan. Sungguh miris, tetapi demikianlah realitas sebagian dari wajah Ramadan.

Tentu saja tidak dapat menohok bahwa membuka warung di siang hari dapat saja dibenarkan bagi musafir atau orang yang dibenarkan syariat untuk tidak berpuasa, terutama non-muslim.

Namun yang menohok justru kala yang membuka warung dan yang menikmati hidangannya adalah mereka yang sengaja meninggalkan ibadah puasa tanpa dalil pembenaran agama.

Fenomena tersebut selalu menghiasi aktifitas di bulan Ramadan setiap tahunnya. Artinya, hal tersebut tidak dapat diabaikan begitu saja, sebab semua menjadi berdosa ketika tidak ada yang saling mengingatkan saudara-saudara kita yang muslim agar tidak meninggalkan rukun Islam berupa puasa.

Karenanya, pemerintah sejatinya mengaturnya dalam regulasi bahwa membuka warung di siang hari sepanjang Ramadan perlu ditertibkan, bukan asal ditutup tetapi harus ada pertimbangan lain ketika ada warung yang buka, bukan pembiaran.

Sementara itu, para tokoh agama juga sejatinya menjadikan aspek ini menjadi keperihatinan sebagai wujud perilaku agama yang memiriskan.

Bayangkan, jika seseorang terang-terangan meninggalkan ibadah puasa tanpa alasan, bahkan terang-terangan pula memamerkan diri meninggalkan puasa.

Maka menjadi tanggungjawab bersama untuk saling mengingatkan. Artinya, besar kemungkinannya mereka semaunya meninggalkan ajaran agama semata karena kurangnya pemahaman agama mereka.

Dengan begitu, kita tidak bisa berbuat banyak kecuali mengingatkan saudara-saudara kita dengan mengetuk keimanannya untuk memuliakan bulan Ramadan, diantaranya tidak berjualan di siang hari, karena yakinlah tidak diberkahi reskinya oleh Allah Swt.

Sejatinya Ramadan digunakan untuk meraup kekayaan amal sebagai tabungan akhirat, bukan semata mengejar keuntungan material duniawi sehingga tidak ada waktu untuk mendekatkan diri pada sang khalik di bulan penuh berkah, rahmat dan ampunan ini. Semoga setiap usaha-bisnis kita senantiasa dalam ridha Allah, terutama tidak membuka “warung bertirai” di siang hari pada bulan Ramadan. Amin.

Firdaus Muhammad

Dosen UIN Alauddin Makassar

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.