Makassar Terkini
Masuk

Pengamat Sebut Habib Rizieq Bukan Lagi Magnet Politik, Aziz Yanuar: Tidak Perlu Menanggapi Tiap Pendapat

Terkini.id, JakartaAziz Yanuar selaku kuasa hukum Habib Rizieq ikut angkat bicara terkait pernyataan Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, yang menyebutkan Habib Rizieq sudah tidak lagi menjadi magnet politik.

Aziz Yanuar menuturkan, pernyataan yang dilontarkan oleh Adi tersebut adalah sebuah pendapat. Namun Aziz menyebutkan, tiap pendapat tidak perlu ditanggapi.

“Saya kira itu pendapat dan sah-sah saja namanya pendapat diutarakan siapapun. Dan kami tidak perlu rasanya menanggapi tiap pendapat dalam hal ini,” ungkap Aziz seperti dikutip dari Wartaekonomi, Selasa 2 Agustus 2022.

Terkait hal tersebut, Adi juga sempat menduga Habib Rizieq sakit hati karena Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno yang dulunya dia dukung malah merapat ke pemerintahan Presiden Jokowi.

Kemudian menurut Adi, sakit hati Habib Rizieq bertambah parah ketika Front Pembela Islam resmi dibubarkan.

Aziz yang menanggapi hal tersebut menuturkan, pendapat Adi tersebut dirasa kurang pas karena tidak ada yang namanya sakit hati di dalam perjuangan.

“Soal pernyataan atau pendapat perihal sakit hati, saya tanggapi sekilas saja, bahwa sebenarnya kurang pas karena dalam perjuangan tidak ada yang namanya sakit hati,” ujar Aziz.

Aziz menambahkan, dalam perjuangan yang ada hanyalah rasa sabar dan syukur.

“Yang ada hanya sabar dan syukur. Jadi, tidak ada kamusnya dalam perjuangan melainkan sabar dan syukur saja,” lanjutnya.

Seperti diketahui sebelumnya Adi juga melontarkan pernyataan perihal Habib Rizieq yang tak lagi dilirik oleh para elite politik yang sebelumnya dia dukung pada Pilpres 2019 dan Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu.

Kemudian Adi juga menyinggung soal Habib Rizieq yang tidak mendapatkan kunjungan dari para elite politik ketika dirinya dinyatakan bebas bersyarat.

“Tidak mengherankan ketika bebas, tidak ada satu pun elite politik yang datang. Itu menunjukkan HRS sudah mulai tidak dihitung, bukan lagi magnet politik,” ujar Adi.