Penegak hukum yang bisa “dibeli”;
Aparat yang minta damai di tempat, jaksa dan hakim yang bisa “dilobi”.
Simbol keadilan berubah jadi simbol keraguan. Tenaga pendidik yang kehilangan ruh pengabdian;
Mengajar sekadar menggugurkan kewajiban. Padahal mereka adalah pembentuk karakter bangsa.
Mengapa Ini Terjadi?
1. Pendidikan yang Fokus pada Nilai, Bukan Karakter.
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
- 35 Struktur Kepengurusan DPW PPP Sulsel Akan Dilantik pada 20 Juni 2026, Diisi banyak Generasi Milenial dan Gen Z
Sekolah / kampus sibuk mengejar ranking dan akreditasi, tapi lupa membentuk kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab.
2. Budaya “Asal Bapak Senang”
Yang penting terlihat sibuk, meski hasil tak seberapa. Integritas dikalahkan pencitraan.
3. Penegakan Hukum yang Lemah
Yang bersalah bebas, yang jujur ditekan. Jika salah tidak dihukum, mengapa harus benar?
4. Budaya Serba Instan
Semua ingin cepat kaya, cepat sukses — tanpa kerja keras dan proses.
Padahal amanah menuntut proses, bukan hasil instan.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
