Inovasi Organisasi Pengelola Zakat dalam Optimalisasi Penghimpunan Dana Zakat

INDONESIA tercatat sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. 

Berdasarkan data Worldpopulationreview, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar pada 2021, yakni sebanyak 231 juta jiwa. 

Dengan jumlah muslim yang begitu banyak Indonesia memiliki potensi ekonomi Islam yang sangat besar. 

Baca Juga: Opini: Relasi Kuasa dan Ketimpangan

Hal ini sangat erat hubungannya dengan potensi zakat yang yang ada di Indonesia. 

Zakat menjadi salah satu pilar Islam yang mendukung seluruh misi dakwah Rasulullah, mendanai berbagai kegiatan pembangunan Islam, dan menyelamatkan umat Islam dari kemiskinan. 

Baca Juga: Tobat Susah dan Susah Tobat

Menurut Dr Yusuf Qardlawi, Cendikiawan Muslim Internasional, zakat merupakan upaya dasar dan fundamental untuk megentaskan kemiskinan apabila pelaksanaannya dilakukan dengan optimal. 

Zakat tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kewajiban seorang muslim namun juga menjadi instrumen ekonomi pembangunan yang dapat menunjang suatu negara.

Berdasarkan hasil surver LAZISMU pada tahun 2020, total potensi zakat di Indonesia pada 2020 tercatat sebesar Rp233,84 triliun dengan porsi terbesar pada zakat penghasilan, yaitu senilai Rp139,07 triliun. 

Baca Juga: Tobat Susah dan Susah Tobat

Sedangkan berdasarkan data outlook zakat Indonesia pada 2021, potensi zakat Indonesia mencapai Rp327,6 triliun. 

Angka tersebut terdiri dari zakat perusahaan Rp144,5 triliun, zakat penghasilan dan jasa Rp139,07 triliun, zakat uang Rp58,76 triliun, zakat pertanian Rp19,79 triliun, dan zakat peternakan Rp9,52 triliun. 

Dari data diatas dapat memberi gambaran bahwa zakat jika dikelola dengan baik bisa menjadi sumber kekuatan dalam memberdayakan kondisi perekonomian negara dan masyarakat.

Namun dalam realisasinya, total jumlah penghimpunan dana zakat nasional pada 2019 masih berada di angka Rp10.166,12 triliun berdasarkan data Baznas tahun 2019. 

Dan pada tahun 2020 penghimpunan zakat nasional pada seluruh Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) di Indonesia diprediksi mencapai Rp12,5 Triliun. 

Ini menunjukkan bahwa realisasi penghimpunan dana zakat di Indonesia belum optimal.

Banyak faktor yang menyebabkan kurang optimalnya penghimpunan dana zakat. 

Menurut Direktur Pendistribusian dan Pemberdayaan BAZNAS, Irfan Syauqi Beik, tiga kendala yang membuat penerimaan zakat di Indonesia masih minim, yaitu kurangnya edukasi dan literasi, kurangnya penguatan kapasitas kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM), terakhir, kurang maksimalnya regulasi di tingkat pusat maupun daerah. 

Kendala ini sesuai dengan hasil penelitian Bank Indonesia tahun 2018, selain faktor internal, eksternal dan sistem pengelolaan zakat, salah satu faktor penyebab belum optimalnya penghimpunan zakat di Indonesia, yaitu rendahnya pemahaman atau literasi masyarakat mengenai zakat itu sendiri (Ascarya: 2018). 

Indeks literasi zakat nasional pada 2020 masih pada tingkat moderat (66,78). Menurut Baznas tingkat literasi zakat masih menjadi tantangan utama di Indonesia.

Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) punya tugas penting, yaitu mengajak masyarakat untuk menunaikan kewajiban zakat, memberdayagunakan peran unit sosial keagamaan, serta meningkatkan jangkauan zakat. 

Selain itu, OPZ juga memiliki sumber daya manusia yang profesional, sehingga mereka punya program, campaign, peraturan, dan evaluasi yang sangat jelas
Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) harus berinovasi untuk memengaruhi masyarakat agar menyalurkan zakatnya melalui OPZ yang sudah diakui, serta memengaruhi masyarakat yang belum berzakat agar menunaikan zakat. 

Untuk meningkatkan jangkauan kepada mustahik OPZ perlu mengembangkan inovasi baik dalam penghimpunan dana zakat dan inovasi dalam program penyaluran dana zakat yang produktif untuk menarik kepercayaan calon muzakki. 

Selain itu, OPZ juga perlu melakukan inovasi digitalisasi zakat, yang bertujuan untuk mempermudah muzakki dalam menunaikan kewajibannya. 

Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan literasi zakat bagi generasi milenial dan kalangan muda Indonesia. 

Inovasi digitalisasi juga bertujuan untuk meningkatkan transparansi dalam pengelolaan dan penyaluran zakat.

Pengelolaan zakat di masa kini membutuhkan inovasi dan sinergi antara pemeritah, masyarakat dan Organisasi Pengelola Zakat, sehingga zakat tidak sekedar menjadi ajang charity yang hanya memenuhi kebutuhan konsumtif. 

Zakat harus mampu menjadi hal yang produktif, memberantas kemiskinan, membantu kaum dhuafa dan menyelamatkan ekonomi masyarakat.

Dian silvia As
Pascasarjana Manajemen Inovasi
Universitas Teknologi Sumbawa

Baca berikutnya
Bulukumba Tahun 2100
Bagikan