Opini : Benarkah Ancaman Negara Ini Radikalisme?

Tulisan ini adalah kiriman dari Citizen, isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.
Laporkan tulisan

Terkini.id, Makassar – Pemberitaan Home News Nasional Senin, 2 Desember 2019 lalu menyatakan bahwa Wapres yang didampingi oleh Menteri PPN Suaharso menyebut perlunya dilakukan pendataan majelis taklim demi menangkal radikalisme. Hal itu disampaikan Ma’ruf menanggapi terbitnya Peraturan Kementerian Agama Nomor 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim.

“Untuk data, saya kira perlu. Supaya nanti jangan sampai ada majelis yang menjadi sumber persoalan atau mengembangkan radikalisme. Kan jadi masalah, sehingga penting,” ujar Ma’ruf saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Meski demikian, Ma’ruf menilai, tidak perlu Kemenag langsung yang mendata majelis taklim itu. Bisa saja majelis taklim sendiri yang melaporkan keberadaan mereka ke Kemenag dalam rangka mendapatkan pembinaan.

“Mungkin bukan daftar, tapi dilaporkanlah kira-kira. Supaya tahu ada majelis taklim ya. Mungkin dilaporkan, majelis taklim yang laporlah,” ujar Ma’ruf.

Ma’ruf menambahkan, pendataan di era sekarang sangatlah penting. Bukan untuk hal lain, pendataan hanya untuk pembinaan.
“Semuanya sekarang itu harus terdata. Tamu saja harus didata,” lanjut mantan Rais Aam PBNU itu.

Menarik untuk Anda:

Sebelumnya, Kemenag menerbitkan Peraturan Kementerian Agama Nomor 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim.

Menteri Agama Fachrul Razi menilai, hal tersebut dilakukan untuk mengetahui majelis taklim mana saja yang membutuhkan bantuan pemerintah saat mengadakan acara besar.

Kini radikalisme lagi-lagi menjadi fenomena belakangan ini. Bahkan tengah menjadi isu terpanas yang menjadi sorotan dikalangan masyarakat, baik dalam media massa, cetak dan kalangan politik Negara, seperti itulah kira-kira. Dalam pernyataan yang disampaikan oleh Wapres Ma’ruf Amin tersebut seakan akan radikalisme dianggap sebagai ancaman nyata dan ngeri di negeri ini.

Radikalisme dipandang sebagai isu yang berdampak negative terhadap negara. Artinya tidak memiliki sama sekali nilai-nilai positif terhadap isu tersebut, bahkan alih-alih mengaitkan aksi-aksi kekerasan, terorisme, dengan dalih mengancam keutuhan NKRI. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh wapres sendiri yang mengatakan bahwa perkara majelis taklim siapapun yg mengadakan haruslah di data supaya nanti jangan sampai ada majelis yg mengembangkan radikalisme, ini menunjukkan bahwa radikalisme memang telah menjadi ancaman bagi negara karena rezim akan terus mengawasi kelompok majelis taklim yang dianggap sebagai radikal. Seperti itulah definisi radikal menurut penguasa. Mereka seolah-olah sengaja membuat narasi yang negatif terhadap radikalisme sehingga masyarakat berpandangan bahwa radikal memang bahaya dan menjadi ancaman dan harus dicegah.

Hal ini cukup membuktikan bahwa bagi para penguasa Radikalisme menjadi ancaman dan seolah-olah kata radikal hanya ditujukan kepada orang-orang yang membawa pemahaman yang katanya ingin mengubah dasar Negara, dan ini pula dapat kita lihat bahwa adanya kecemasan terhadap penguasa.

Namun jika kita telaah secara mendalam, benarkah gorengan radikalisme ini adalah masalah utama bangsa ini?

Jika kita ingin adil dalam berpikir, maka kita bisa dengan waras menimbang bahwa masalah besar dan paling genting dialami negara ini adalah masalah kemiskinan, korupsi, disintegrasi, maupun penjajahan bidang ekonomi.

Data kemiskinan menyajikan bahwa garis kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp 425.250.-/kapita/bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp 313.232,- (73,66%) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp 112.018,- (26,34%). Pada Maret 2019 secara rata-rata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,68 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya garis kemiskinan per rumah tangga miskin secara rata-rata adalah sebesar Rp 1.990.170,-/rumah tangga miskin/bulan (sumber:Badan Pusat Statistik bps.go.id).

Menurut Menteri Sosial RI Juliari Peter Batubara dalam harian Kompas.com 28 November 2019 lalu mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih di atas 4 persen atau sekitar 30 juta penduduk yang masih berada di bawah garis kemiskinan.

Selain permasalahan kemiskinan, masalah nyata yang mengancam persatuan dinegeri ini adalah persoalan disintegrasi. Seperti contoh yang terjadi di Papua. Belum lagi persoalan utang luar negeri. Utang luar negeri BUMN 2018 Melonjak 25% menjadi Rp 595 Triliun pada November 2018. Utang luar negeri di Indonesia Januari 2019 Tembus Rp 5.400 Triliiun. Pada April 2019, utang luar negeri Indonesia naik 8,7%. Pada Mei 2019, utang luar negeri naik jadi Rp 5,554 Triliun, Utang Luar Negeri Indonesia tembus Rp 5,534 Triliun per Juli 2019, Utang luar negeri Indonesia Rp 5,538 Triliun September 2019

Melihat data-data tersebut di atas, mari kita berpikir jernih kembali. Benarkan radikalisme yang sesuai tafsiran penguasa dan jajarannya adalah masalah serius negeri ini? Atau jangan-jangan, jualan isu radikalisme ini justru hanya sebagai framing untuk menutupi ketidakbecusan pemerintah dalam menciptakan hidup yang sejahtera untuk seluruh rakyatnya tanpa terkecuali.

Padahal dalam Islam, Esensial negara sepaket dengan pemimpin adalah sebagai tempat berlindung para warganya. Sebagaimana hadits Rasulullah Saw: Imam itu adalah pemimpin dan rakyat bersembunyi dibelakangnya

Tapi jika kita merefleksikan hadits tersebut ke fakta hari ini, maka sungguh kita akan menemukan hal yang berkebalikan. Pemimpin hari ini justru hanyalah sebatas menjadi boneka aseng asing. Saking menjadi bonekanya, jualan radikalisme pun sebenarnya tidak lain karena pesanan negaraa majikan yang keserakahannya terganggu oleh kekuatan dakwah Islam.

Maka tugas kita sebagai pemuda, apalagi mahasiswa ialah masif melakukan peperangan opini yang mendiskreditkan ajaran islam melalui gorengan radikalisme dalam tafsiran penguasa.

Oleh: Fatimah Azzahra Ayu (Aktivis Back to Muslim Identity).

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Percepat Penanganan Covid-19, Pangdam XII/Tpr Pimpin Rapat Evaluasi

Kawal Penolakan Tambang Pasir, HMI MPO dan IMM Makassar Timur Akan Sambangi Sangkarrang

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar