Kegaduhan Negara di Masa Wabah Pandemi Covid-19

#Atasivirus Cabut Omnibus

KAMI berpendapat, anggota DPR yang mengesahkan pembahasan RUU Cipta Kerja di Baleg tidak punya hati nurani dan tidak memiliki empati kepada jutaan buruh yang sampai saat ini bertaruh nyawa dengan tetap bekerja di pabrik-pabrik, di tengah himbauan social distancing, ujar Presiden KSPI, Iqbal dalam wawancaranya di salah satu media online di Indonesia.

Uraian di atas ialah respons kebingungan dan kekecewaan warga terhadap gerak-gerik pemerintah dalam merespons dan mengeluarkan suatu kebijakan, utamanya menyangkut urusan publik.

Tentu, uraian tersebut tak hadir dalam suatu ruang hampa yang tak bermateri, justru ia hadir dalam sebuah kegelisahan yang mengakar akan persoalan kewargaan saat ini.

Tepatnya, saat semua warga berjuang dengan jalan dan cara masing-masing melawan dan mencegah virus covid-19 menyebar dan memakan korban lebih banyak, di saat bersamaan pula Negara memproduksi kegaduhan dalam ruang publik dan perpolitikan di Indonesia.

Alih-alih memikirkan nasib warga dan pemilihnya di tengah merebaknya virus Covid-19, para anggota dewan tersebut malah berbondong-bondong mengadakan rapat dan mempercepat perampungan RUU Cipta Kerja (Omnibus Law).

Baca juga:

Padahal jika melihat perkembangan dan respons warga terhadap kebijakan ini (baca: RUU Cipta Kerja) dalam beberapa bulan terakhir, telah menuai banyak penolakan.

Tentu ini menunjukkan cacatnya kebijakan tersebut dalam analisa kebijakan publik. Dalam Why an Anthropology of Public Policy, kebijakan publik diibaratkan sebagai sebuah diskursus yang berkonsekuensi pada ranah praktik dan ideologis, baik dari pengambil kebijakan maupun objek kebijakan (Wedel dan Feldman, 2005).

Maka dari itu, tidak usah berpikir keras untuk menyimpulkan bahwa sikap terburu-terburu para anggota dewan untuk merampungkan kebijakan tersebut, menjadi penanda watak praktik dan ideologis bernegara yang jauh dari kata kepentingan publik.

Selain dari sisi Antropologi Kebijakan Publik, pemikir politik George Sorensen dalam bukunya Democracy and Democratization: Process and Prospect in a Changing World (1993) juga pernah memberi kita teguran bahwa nantinya akan ada masa dimana sistem demokrasi itu bersifat semu dan beku.

Lebih lanjut, ia memaparkan ada empat pola yang menunjukkan kebekuan demokrasi tersebut, yakni; (1) melemahnya ekonomi baik pada tingkat nasional maupun lokal; (2) mandeknya proses pembentukan masyarakat sipil dalam aspek politik; (3) konsolidasi politik yang tidak pernah mencapai soliditas; dan (4) penyelesaian masalah-masalah sosial dan politik-hukum yang tidak pernah tuntas dan diwariskan ke rezim-rezim selanjutnya.

Lantas, jika melihat keempat penanda yang dikhawatirkan oleh George Sorensen tersebut, rasa-rasanya saat ini kita sedang berada pada titik beku dalam dunia demokrasi, seiring dengan kegaduhan yang diproduksi oleh pemerintah dan anggota dewan ditengah tingginya solidaritas dan resiliensi warga menghadapi wabah penyakit virus Covid-19.

Seharusnya, pemerintah dan negara hadir menggandeng dan melindungi warganya dalam kondisi seperti ini, untuk menunjukkan bahwa mereka adalah titisan Tuhan di bumi. Bertugas untuk melindungi dan mengayomi.

Tetapi, rasanya sulit membayangkan hal itu dapat tercapai jika melihat gerak lambat pemerintah dalam merespons wabah pandemik Covid-19, merumuskan kebijakan perlindungan bagi para petugas medisnya, memastikan pangan warganya terpenuhi, dan terakhir tidak memanfaatkan situasi wabah pandemik sebagai jalan meloloskan aturan yang tak direstui oleh warganya sendiri.

Betul kata pepatah bahwa pemimpin (negara) itu mencapai suksesnya melalui pelayanan kepada orang lain, bukan dengan mengorbankan orang lain.

#Slamet Riadi, akrab disapa dengan Memet lahir dari tanah Bumi Lasinrang. Menggeluti isu-isu Antropologi Ruang dan Politik. Saat ini aktif bergiat di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan

Komentar

Rekomendasi

Fotonya Heboh, Ini Klarifikasi Pria Bertato Indonesia yang Ikut Demo George Floyd

Presiden Jokowi Memaknai Hari Lahir Pancasila di Tengah Pandemi Covid-19

Dipecat dan Dipenjara, Inilah Polisi yang Menindih Leher George Floyd Hingga Tewas

Terekam CCTV, Palang Pintu Jalanan di Perkampungan Mendadak Bergerak Sendiri

Heboh Video Bidan Desa Dianiaya Seorang Wanita, Dituduh Pelakor

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar