Pemerintah pun tak serius menanamkan pendidikan moral, sibuk dengan kekuasaan dan citra.
Mawar dan Kumbara hanyalah dua wajah dari sekian banyak anak muda yang kehilangan arah. Mereka adalah alarm keras bagi kita: keluarga, masyarakat, bahkan negara.
Aku menatap mereka sambil menahan rasa yang bercampur baur.
“Anakku, Allah Maha Pengampun. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama kalian benar-benar bertaubat. Jadikan ini pelajaran. Jangan ulangi lagi. Kembalilah pada Allah sebelum terlambat.”
Air mata Mawar jatuh. Kumbara diam membisu. Aku tahu kata-kataku mungkin belum sepenuhnya mengubah jalan mereka. Tapi aku berharap secercah cahaya bisa masuk ke hati yang sedang gelap.
- Eksplorasi Seni Visual Digital, Riswandi Kembangkan Teknik Pengolahan Foto dari Bulukumba
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
Dan sore itu, aku berdoa dalam hati:
Semoga generasi ini kembali menemukan jalan cahaya. Semoga orang tua dan guru sadar kembali pada peran mendidik akhlak.
Semoga pemerintah mengerti bahwa membangun bangsa bukan sekadar ekonomi, tapi juga moral dan iman.
Karena tanpa iman, generasi akan rapuh. Dan rapuhnya generasi adalah awal runtuhnya bangsa.
***
Tulisan ini adalah refleksi nyata dari ruangan praktik. Mari bersama-sama untuk peduli terhadap generasi bangsa kita tercinta.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
