SUATU ore datanglah seorang perempuan muda ke ruang praktikku. Kulitnya putih, rambutnya kecoklatan dengan model spiral.
Sepertinya ia cantik. Saya katakan “sepertinya”, karena wajahnya tertutup masker. Ia datang bersama seorang lelaki muda, seumuran, berpenampilan gagah dengan tubuh atletis dan kulit putih bersih.
“Dok, haid saya tidak teratur,” kata si perempuan muda itu. Kita sebut saja namanya Mawar. Sedangkan pemuda di sampingnya, Kumbara.
“Oh begitu. Sudah berapa lama tidak haid?” tanyaku. “Sudah tiga bulan, Dok.”
Aku lalu melanjutkan, “Kalian sudah menikah berapa lama?”
- Eksplorasi Seni Visual Digital, Riswandi Kembangkan Teknik Pengolahan Foto dari Bulukumba
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
Mereka beradu pandang sejenak, lalu Kumbara tersenyum. “Kami belum nikah, Dok. Kami masih kuliah, kebetulan satu kampus.”
Aku tercekat. Dalam hatiku ada rasa sedih. Mereka berbicara seolah ini bukan hal tabu. Seolah biasa saja.
“Sudah tes pack?” tanyaku.
“Sudah, Dok. Dua garis.” Jawab Mawar tenang.
“Saya bahkan sudah minum obat penggugur. Kami hanya mau memastikan, apakah sudah bersih.”
Wajah mereka tenang, seakan tanpa dosa. Seakan yang mereka lakukan bukanlah pelanggaran besar, melainkan hal lumrah.
Aku menarik napas panjang. Ada gumpalan perih di dada. Anak-anak muda ini, generasi Z, masih belia, tapi sudah berani bermain-main dengan sesuatu yang begitu besar taruhannya: Seks bebas, kehamilan di luar nikah, bahkan menggugurkan janin yang belum berdosa.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
