Opini: Navigasi Derajat Manusia

Opini: Navigasi Derajat Manusia

HZ
Muhlis Pasakai
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Sebaik-baik penciptaan dari aspek rohaninya dapat dipahami dari ayat setelahnya, di mana Allah mengatakan bahwa “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”(QS. 95:5).Ayat berikutnya berbunyi, “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh”(QS. 95:6).Ayat ini memperjelas bahwa sebaik-baik penciptaan pada manusia juga pada potensinonjasmaninya, karena ayat yang ke-6 ini menjelaskan bahwa yang dikecualikan akan dikembalikan ke tempat yang rendah (neraka) adalah yang beriman dan beramal saleh. Iman dan amal saleh bukanlah bentuk/tekstur fisik manusia. Hal ini juga didukung oleh fakta bahwa tidak semua bayi dilahirkan dalam keadaan utuh fisiknya. Kesimpulan sederhananya bahwa apabila manusia ingin menetapi fitrah penciptaannya sebagai sebaik-baik penciptaan, maka ia harus menjaga derajat keimanan dan perbuatan baiknya.

Ilmu

Ketika Malaikat bertanya kepada Allah perihal penciptaan manusia, Allah menyandarkan alasannya pada ilmuNya, “Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”(QS. Al Baqarah: 30). Malaikat pun akhirnya takluk di hadapan Adam setelah Allah mengajarkan nama-nama benda (ilmu) kepada Adam. Dari peristiwa ini dapat ditarik 2 pesan tentang luhurnya martabat ilmu. Pertama bahwa Allah sendiri dalam menjelaskan keputusanNya, menjadikan ilmu sebagai landasan argumentasi, padahal sebagai Penguasa, Allah bisa saja mengatakan “ini adalah hak prerogatif saya”. Kedua, Malaikat pun akhirnya tunduk pada Adam setelah diajarkan ilmu kepadanya.

Hati, Mata, dan Telinga

Derajat manusia dapat menyerupai bahkan lebih rendah dibandingkan hewan. Hal tersebut apabila tidak memanfaatkan hati dan pancaindra yang diberikan padanya, sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an surah al-A’raf ayat 179,“Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi”.

Baca Juga

Dapat disimpulkan bahwa dalam Islam derajat manusia sangat ditentukan oleh ilmu, iman dan amal saleh atau kebaikannya, serta kemampuan menjaga hati dan menggunakan pancaindranya pada hal-hal yang positif. Dengan demikian, orientasi dan pandangan manusia berkenaan dengan derajat seseorang, semestinya tidak lagi didominasi pada bentuk fisik, suku, dan strata sosialnya.

Allahu A’lam Bi al-showab.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.