Pernyataan Mahfud MD Soal Pemanggilan Ahli Sejarah Serangan 1 Maret Dibantah Keras, Sebut Tak Pernah Dipanggil dan Kebetulan

Pernyataan Mahfud MD Soal Pemanggilan Ahli Sejarah Serangan 1 Maret Dibantah Keras, Sebut Tak Pernah Dipanggil dan Kebetulan

R
Merry Lestari
Redaksi

Tim Redaksi

Terkini.id, Jakarta – Dalam sebuah wawancara di salah satu televisi swasta, Menko Polhukam Mahfud MD menyampaikan bahwa dalam penentuan Keppres No.2 Tahun 2022 tentang Hari Penegakan Kedaulatan Negara, ia telah mengumpulkan sejumlah saksi sejarah dalam beberapa kali seminar yang diselenggarakan oleh pemerintah terkait serangan 1 Maret 1949.

Dalam pernyataannya itu, Mahfud MD menyebut telah mengumpulkan sejumlah saksi sejarah terkait dengan hilangnya nama Presiden ke-2 Soeharto dari serangan umum 1 Maret 1949, salah satunya yaitu anak Letkol (Purn) Wiliater Hutagalung, Batara Hutagalung.

“Dibuatlah seminar-seminar sampai 3 tahun itu. Ahli sejarah bicara semuanya disini, dan di sini saksi-saksi yang masih hidup, saksi yang punya catatan, semua keturunannya seperti Batara Hutagalung semua catatan dia, dipanggil suruh bicara gitu,” ungkap Mahfud MD, seperti dilihat dari YouTube tvOneNews, Sabtu, 5 Maret 2022.

Namun, pernyataan Mahfud MD tersebut dibantah keras oleh anak Letkol (Purn) Wiliater Hutagalung, Batara Hutagalung. 

Ia mengaku tak pernah dipanggil baik oleh Mahfud maupun tim Seminar Serangan Umum 1 Maret.

Baca Juga

“Saya tidak pernah dipanggil oleh tim/panitia seminar dalam tiga seminar tersebut,” kata Batara Hutagalung dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 Maret 2022, dikutip dari democrazy.id.

Batara kemudian menjelaskan, bahwa ia baru bertemu dengan Menko Polhukam Mahfud MD pada acara 27 Januari 2022 lalu.

Pada saat itu, Mahfud MD meminta tulisan mengenai Serangan Umum 1 Maret 1949 dan kebetulan dirinya membawa buku autobiografi milik sang ayah.

“Kebetulan waktu itu saya membawa buku autobiografi ayah saya, Letkol TNI (Purn) dr Wiliater Hutagalung yang saya berikan kepada beliau,” beber Batara Hutagalung.

Batara menjelaskan bahwa buku autobiografi itu ditulis cukup rinci, dari mulai perintah Panglima Besar Jenderal Sudirman kepada Letkol dr Wiliater Hutagalung, kemudian rapat di markas Divisi III tanggal 18 Februari 1949, dan siapa-siapa yang hadir.

Hingga siapa tokoh lain yang dihubungi oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Perang, Kol TB Simatupang.

Batara mengatakan, naskah buku autobiografi ini ditulis tahun 1986, dan menjadi dasar pengusulan Tanda Kehormatan Bintang Gerilya tahun 1994.

“Yang mengurus tanda Kehormatan Bintang Gerilya untuk Letkol TNI (Purn) dr Wiliater Hutagalung adalah Mayjen TNI Pranowo, waktu itu adalah Sekretaris Militer Presiden Soeharto, atas perintah langsung dari Presiden Soeharto,” ungkapnya.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.