Terkini.id, Jakarta – Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Profesor Henri Subiakto menilai bahwa bersatunya Prabowo Subianto dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan sebuah contoh keteladanan demokrasi.
Prof Henri pun menilai, bersatunya dua tokoh yang pernah menjadi rival dalam Pemilihan Presiden ini adalah sebuah hal yang harusnya disyukuri, bukan malah dinyinyiri.
“Bersatunya pak Prabowo sebagai menterinya Presiden Jokowi jadi contoh keteladanan dunia dalam demokrasi,” kata Prof Henri melalui akun Twitter @henrysubiakto, seperti dikutip Terkini.id pada Rabu, 6 Juli 2022.
“Itulah salah satu yang harus kita syukuri, bukan malah dinyinyiri. Bayangkan negeri ini seperti apa kalau mereka terus konfrontasi? Untungnya mereka lebih mendahulukan kepentingan NKRI,” sambungnya.
Bersama pernyataannya, Prof Henri melampirkan video Prabowo Subianto yang menceritakan alasannya mau menjadi anak buah Presiden Jokowi padahal pernah menjadi rival.
- Tanggapi Ceramah Ustaz Khalid Basalamah, Prof Henri: Kalau Ngikut Tafsirnya, Islam Jadi Miskin Seni dan Budaya
- Prof Henri Samakan Dokter Tifa dengan Intelektual Abal-Abal Akibat Komentari Krisis Sri Lanka
- Holywings Boleh Ganti Nama untuk Buka Lagi, Prof Henri: Itulah Keputusan Politik, seakan Ikuti Opini Publik, tapi Sebenarnya...
- Haramkan Pilih Ganjar Pranowo, Gur Nur Disentil Prof Henri: Kata Bagus dan Islami Menurut KH Dobol
- Pedas! Said Didu Sebut Prof Henri Kembangkan Sikap Anti Agama dalam Berpolitik
Prabowo awalnya menceritakan bahwa memang banyak pihak heran mengapa ia mau menjadi bawahan Presiden Jokowi.
“Bayangkan, saya keliling di mana-mana di dunia, mereka bingung, kok bisa anda rivalnya pak Jokowi kok sekarang anda mau menjadi anak buahnya pak Jokowi,” katanya.
Prabowo lalu menjelakan bahwa filosofi yang dipegang Indonesia memang berbeda dengan yang dipegang negara-negara lain.
“Loh, filosofi kita adalah bahwa kalau kita berbeda pendapat tidak berarti kita harus bermusuhan,” katanya.
Menurutnya, kita boleh berbeda pendapat dengan siapa saja, bahkan termasuk dengan orangtua atau pasangan.
Namun, Indonesia adalah negara yang menjunjung tinggi budaya kekeluargaan di mana perbedaan tidak menjadi pemecah,
“Nah di situlah, budaya Indonesia adalah budaya kekeluargaan. Bahwa kita boleh bersaing, boleh berbeda pendapat tapi ingat kita semua adalah satu keluarga,” katanya.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
