Terkini.id, Jakarta – Pengamat politik, Ubedilah Badrun secara blakblakan menyinggung soal adanya kemungkinan survei bayaran.
Ubedilah mengatakan hal itu terkait elektabilitas partai terkorup yang masih tinggi berdasarkan survei.
Namun, ia tidak menyebutkan dengan jelas partai apa yang menurutnya terkorup dan survei dari lembaga mana yang ia singgung.
Selain kemungkinan adanya survei bayaran, Ubedilah juga mengemukakan tiga alasan lain mengapa partai terkorup masih memiliki elektabilitas tinggi.
“Ada empat kemungkinan mengapa elektabilitas partai paling korup masih di atas partai lain atau masih tinggi,” ungkapnya pada Selasa, 24 Agustus 2021, dilansir dari GenPi.
- Keras! Pengamat Kritik Partai Mahasiswa: Kaya Sekali, dari Mana Dananya?!
- Ubedilah Badrun: Jokowi Harus Segera Pecat Luhut, Jika Tidak Mahasiswa Akan Terus Demo
- KPK Butuh Waktu untuk Telaah Kasus Dugaan Korupsi Putra Presiden, Maudy Asmara: Haduh! Butuh Berapa Tahun?
- Ubedilah Badrun Ceritakan Perihal Undangannya ke Kantor KPK
- Siap-siap! KPK Bakal Periksa Gibran dan Kaesang, Usut Tuntas Dugaan KKN
Pertama, menurut Ubedilah, karena masyarakat umum yang terjaring sampel survei kemungkinan adalah masyarakat yang apolitik.
“Masyarakat tersebut tidak memiliki cukup pengetahuan tentang politik saat ini termasuk informasi tentang partai paling korup,” katanya.
Kedua, lanjut Ubedilah, masyarakat secara umum belum mampu mengambil sikap untuk memberi hukuman bagi partai yang melakukan korupsi paling jahat sepanjang sejarah republik.
Ia mencontohkan kasus korupsi bantuan sosial (bansos) untuk rakyat miskin.
Secara moral, menurut Ubedilah, mestinya masyarakat kecewa dengan partai yang korupsi uang untuk rakyat miskin tersebut.
Maka, lanjutnya, rakyat seharusnya memberi sanksi kepada partai yang korup itu dengan tidak lagi memilih partai penguasa yang korup itu.
“Ketiga, itu menggambarkan bahwa antara rakyat dengan partai tersebut sama-sama berwatak koruptif,” kata Ubedilah.
Ia menyinggung bahwa ini merupakan perilaku yang sangat menjijikan sekaligus mengerikan bagi masa depan negara.
“Inilah sebab negara sudah rusak secara moral karena elit dan rakyatnya sama-sama senang korupsi,” ujarnya.
Keempat, Ubedilah, menilai bahwa survei yang menempatkan partai terkorup yang dimaksud bukan realitas sebenarnya.
Sebab, menurutnya, masyarakat Indonesia secara empirik masih rasional, bersikap kritis, dan memiliki sikap anti korupsi.
“Artinya ada kemungkinan survei yang dilakukan adalah survei bayaran, survei Rp yang menggadaikan prinsip-prinsip kebenaran ilmiah,” katanya.
Ubedilah pun menyayangkan jika hal ini dilakukan oleh kelompok yang mengaku sebagai lembaga penelitian.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
