Terkini.id, Jakarta – Mantan Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu turut berkomentar mengenai pernyataan rektor Institut Teknologi Kalimantan, Prof Budi Santosa Purwokartiko yang terindikasi SARA pada postingannya dengan menyebut pakaian manusia gurun.
Said Didu mengatakan bahwa persoalan ini adalah masalah yang sangat serius karena mengandung SARA dan terindikasi Islamophobia.
“Setuju. Persoalan ini sangat serius karena rektor ITK berjiwa SARA dan Islamophobia. Jika orang-orang seperti mereka diberikan jabatan maka bangsa ini bisa pecah”, tulis Said Didu menanggapi cuitan Cholil Nafis, dikutip dari keterangan tertulisnya, Sabtu 30 April 2022.

Said Didu mengatakan bahwa orang sekelas Pak Habibie dan agamanya sangat bagus tidak sombong seperti professor Budi Santosa.
“Pak Habibie sangat pintar dan agamanya sangat bagus sehingga tidak sesombong professor ini. Ribuan anak-anak pintar yang dikirim pak Habibie saat itu sekarang ada di Indonesia dan di berbagai negara dengan ilmu dan agamanya yang baik. Profesor Budi ini otaknya jelas-jelas SARA!!!”, tulisnya lagi.

- Kabar Rencana PPN Naik Jadi 12 Persen Tahun 2025, Said Didu: Pemerasan Rakyat
- Pemerintahan Jokowi Habiskan Rp 2.778 Triliun Bangun Tol Hingga Bandara, Said Didu: Ini Kebohongan Publik
- Said Didu Sorot Permintaan Jokowi ke China Terkait IKN hingga Singgung Kereta Cepat
- Kritik Subsidi Mobil Listrik, Said Didu Berikan Contoh Alur Merampok Rakyat Melalui Kebijakan
- Stafsus Kemenkeu Disemprot Said Didu Usai Bahas Dana Pajak
Sebelumnya, pernyataan rasis yang ditulis oleh Budi Santosa ditulis usai melakukan wawancara dengan calon penerima beasiswa LPDP.
Kalimat dalam postingan Prof Budi Santosa mengandung kesan dia lega karena calon penerima besasiswa yang ia wawancarai tidak memakai penutup kepala dan tidak menggunakan kata Insha Allah.
Dalam kesempatan wawancara itu, Prof Budi Santosa mengatakan pemilihan kata yang digunakan oleh calon penerima beasiswa jauh dari kata langit yakni bahasa-bahasa Qodarullah, dll.
“Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insallah, barakallah, syiar, qadarullah, dsb. Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia Pendidikan dan sektro swasta beberapa tahun yang akan datang”, tulis Prof Budi Santosa, dikutip dari screenshot yang dibagikan akun @berlianidris.
Selain itu, Prof Budi Santosa juga menyinggung masalah busana yang digunakan seperti penutup kepala yang menurutny seperti manusia gurun.
“Jadi, 12 mahasiswai yang saya wawancarai, tidak satupun menutup kepala ala manusia gurun”, tulisnya lagi.
Dia mengatakan mahasiswi yang ia wawancarai semuanya dengan pikiran terbuka dan menurutnya akan mencari Tuhan ke beberapa negara maju, bukan ke negara yang orang-orangnya hanya mampu bercerita tanpa membuktikan karya teknologi.
“Otaknya benar-benar openmind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi”, tulis Prof Budi Santosa.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
