Terbongkar! PM Israel Pernah Daftar Warga Palestina: Saya Bersumpah Setia

Terbongkar! PM Israel Pernah Daftar Warga Palestina: Saya Bersumpah Setia

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkini.id, Jakarta – Eks Perdana Menteri (PM) Israel, Shimon Peres ternyata pernah mendaftar menjadi warga negara Palestina. Hal itu diketahui dari sebuah dokumen sejarah yang kini tengah beredar luas di media sosial.

Diketahui, Shimon Peres merupakan tokoh Israel yang lahir di Wieniawa, Polandia (sekarang Visnievamen jadi wilayah Belarusia) pada 2 Agustus 1923 silam.

Ia meninggal di wilayah Rahmat Gan, Israel pada 28 September 2016 saat umurnya beranjak 93 tahun.

Berdasarkan laporan dari berbagai sumber yang beredar di publik, kisah Shimon Peres di tanah Palestina berawal pada tahun 1934 silam.

Ketika itu, keluarganya memutuskan untuk pindah ke kawasan Palestina yang saat itu masih dikuasi oleh pemerintahan Inggris.

Baca Juga

Melansir laporan situs Radio24.ilsole24ore.com, Rabu 19 Mei 2021, pada dokumen pendaftaran Shimon Peres yang ingin berkewarganegaraan Palestina dijelaskan status pekerjaannya sebagai Petani.

Mantan Pemimpin Israel ini kala itu datang dengan status profesinya tersebut dari Belarusia pada tahun 1937.

Dalam foto dokumen yang beredar di media sosial, terdapat tanda tangan yang diduga kuat milik Shimon Peres.

Selain itu, juga terdapat sebuah pernyataan Shimon Peres bersumpah setia kepada Pemerintah Palestina.

“Saya bersumpah setia dan setia kepada pemerintah Palestina,” demikian pernyataan tertulis dalam dokumen tersebut.

Mengutip Hops.id, apabila ditelusuri lebih lanjut terkait sejarah pendukan Israel di tanah Palestina memang sangatlah panjang. Namun terdapat beberapa peristiwa penting yang bisa jadi pijakan.

Berdasarkan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 181 pada 1947 membagi dua wilayah Palestina: satu untuk bangsa Yahudi dan sisanya buat rakyat Palestina.

Kendati demikian, Israel yang terbentuk pada 1948 itu merasa tidak puas dan terus merampas wilayah Palestina hingga kini menguasai 78 persen dari luas semua wilayah.

Sementara dalam buku Jejak-Jejak Juang Palestina karya Musthafa Abd Rahman dijelaskan, dua peristiwa sejarah yang menjadi fondasi perampokan tanah Palestina itu berkisar pada 1900-an.

Pertama, peristiwa Perjanjian Sykes-Picot pada 1916 antara Inggris dan Prancis. Inggris dan Prancis membagi peninggalan Dinasti Ottoman di wilayah Arab.

Pada perjanjian tersebut ditegaskan bahwa Prancis mendapat wilayah jajahan Suriah dan Lebanon, sedangkan Inggris memperoleh wilayah jajahan Irak dan Yordania. Sementara itu, Palestina dijadikan status wilayahnya sebagai wilayah internasional.

Britania Raya diberikan mandat, hingga muncul niat mempersatukan Yahudi di tanah Palestina. Kemudian pada tahun 1922, Liga Bangsa-Bangsa mempercayakan mandat atas Palestina kepada Britania Raya.

Populasi wilayah ini pada saat itu secara dominan merupakan Arab Muslim, sedangkan pada wilayah perkotaan seperti Yerusalem secara dominan merupakan Yahudi.

Pada masa ini orang-orang Yahudi dari Eropa bermigrasi ke wilayah Palestina. Meningkatnya gerakan Nazi di Eropa pada tahun 1930 menyebabkan Aliyah kelima (1929-1939) dengan masukknya seperempat juta orang Yahudi ke Palestina.

Peristiwa itu juga meningkatkan gelombang masuknya Yahudi secara besar-besaran, bahkan menimbulkan Pemberontakan Arab di Palestina 1936-1939.

Sebagai reaksi atas penolakan negara-negara di dunia yang menolak menerima pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari Holocaust, dibentuklah gerakan bawah tanah yang dikenal sebagai Aliyah Bet yang bertujuan untuk membawa orang-orang Yahudi ke Palestina.

Barulah pada akhir Perang Dunia II, jumlah populasi orang Yahudi telah mencapai 33% populasi Palestina, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya 11% pada tahun 1922.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.