Waspada! Banyak Negara yang Krisis Terjebak Utang China, Indonesia Diincar?

Terkini.id, Jakarta – Pemerintah China Xi-Jinping memang suka menolong dan rajin menabung dananya ke negara lain. Melalui skema belt and road initiative atau BRI, biasanya China memberikan utang untuk keperluan infrastruktur suatu negara, termasuk Indonesia.

Beberapa negara di dunia seperti Kenya, Maladewa, hingga Sri Lanka terjebak utang akibat pembangunan infrastruktur yang didanai China.

“Pemerintah Sri Lanka dilaporkan meminjam utang kepada Beijing untuk sejumlah infrastruktur proyek sejak 2005, salah satunya pembangunan pelabuhan Hambantota. Total utang Sri Lanka ke China saat ini mencapai US$ 8 miliar, sekitar seperenam dari total utang luar negerinya,” tulis CNBC Indonesia, Minggu, 17 April 2022 dari Times of India.

Baca Juga: Joe Biden Mesra Dengan Jokowi, Dokter Tifa: Rangkul Kepala Indonesia...

Sri Lanka kini sudah jatuh tertimpa tangga. Di saat sebagian pembangunan tak berdampak bagi ekonomi, China pun menuntut Kolombo mengimpor produknya hingga US$ 3,5 miliar.

Belum cukup, Sri Lanka sempat meminta China agar merestrukturisasi utang baru-baru ini. Namun, Xi-Jinping enggan mengiyakan, akibatnya Sri Lanka kini harus mengalami krisis ekonomi hingga politik.

Baca Juga: Fadli Zon Sindir Pengawalan Ketat Presiden Jokowi ke Ukraina, Ruhut:...

Kolombo kini mengalami kemelut terparah sejak merdeka di 1948. Ribuan warga pun bergerak turun ke jalan meminta pemerintah mundur.

Utang Indonesia ke China

Melihat situasi luar negeri yang berimbas utang dari China itu, posisi Indonesia tentu tersorot sebab Xi-Jinping bagian penting dari pembangunan yang digencarkan Presiden Jokowi.

Baca Juga: Fadli Zon Sindir Pengawalan Ketat Presiden Jokowi ke Ukraina, Ruhut:...

Indonesia menjadi salah satu penikmat utang dari China. Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia atau SULNI periode Februari 2022 menerangkan bahwa China merupakan pemberi utang terbesar keempat bagi Indonesia setelah Singapura, Amerika Serikat, dan Jepang.

Utang Indonesia dari China tercatat US$ 20,78 miliar per Februari 2022. Bahkan dari bulan sebelumnya naik 0,76 persen (month-on-month/mtm). Namun, ULN dari Singapura turun 0,75 persen, dari AS turun 0,22 persen, dan Jepang turun 0,91 persen.

“Dari sisi mata uang, ULN terbanyak masih dalam dolar AS. ULN berdenominasi dolar AS tercatat US$ 275 miliar per Februari 2022,” tulis CNBC.

“Di posisi kedua ada euro dengan nilai ekuivalen US$ 25,15 miliar. Yen Jepang menempati peringkat ketiga (US$ 24,82 miliar) dan yuan China berada di posisi empat (US$ 4,31 miliar)” catat media itu.

Bagikan