Terkini.id, Jakarta-Inspektur Jenderal Napoleon Bonaparte juga membuka suara mengenai kasus yang menimpa Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J yang terbunuh di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif, Irjen Ferdy Tambo.
Dia juga berharap bahwa polisi akan dapat mengungkap fakta sejelas mungkin atas insiden itu.
“Kita berharap semua, saya berharap juga kepada teman-teman saya yang masih ada di Polri, mungkin adik-adik saya untuk, sudahlah buka apa adanya. Terlalu mahal harganya,” kata Napoleon Bonaparte seusai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis 18 Juli 2022, dikutip dari tribunnews.com.
Jenderal bintang dua itu juga menyinggung slogan presisi kepolisian nasional. Slogan itu, lanjutnya, harus dibuktikan untuk menjaga marwah kepolisian.
“Dari dulu kita canangkan untuk Presisi, untuk promoter menjaga marwah Polri. Buktikan sekarang daripada kita dicibir oleh semuanya seperti hari ini,” katanya.
- Soal Kasus Pembunuhan Brigadir J, MA Terima Berkas Kasasi Ferdy Sambo Cs
- Kalah Banding, Bagaimana Nasib Para Anak Buah Ferdy Sambo?
- Kuat Maruf Ajukan Hukum Kasasi Setelah Banding Ditolak Atas Vonis 15 Tahun Penjara
- Permohonan Banding Ditolak Pengadilan Tinggi Jakarta, Ferdy Sambo Tetap Dihukum Mati
- Hentikan Perlindungan ke Richard, Ketua LPSK: Kami Sedih, Eliezer Nangis, Pengawal Juga Nangis
Tidak hanya itu, dia juga mendesak mereka yang telah melakukan kesalahan atas kematian Brigadir J untuk tidak bersembunyi.
Dia berharap agar pihak yang berada di balik kematian Birgadir J mengungkapkan fakta yang sebenarnya.
“Kepada yang berbuat gak usah sembunyi kau. Kau ngomong, ngaku kau. Aku Abangmu, sudah beri contoh kau ikuti saja. Jujur saja kenapa? Enggak susah Dek hidup di penjara, biasa saja,” kata Napoleon.
“Laksanakan, kalau kau kuat, tegar kau mampu hadapi itu. Saya sudah membuktikan,” lanjutnya.
Latar belakang kasus penembakan di rumah Ferdy Sambo
Diketahui, insiden baku tembak terjadi di rumah dinas Kadiv Propam Polri Irjen Pol Ferdy Sambo, Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat 08 Juli 2022 sekitar pukul 17.00 WIB.
Menurut pernyataan polisi, insiden itu dimulai ketika Brigadir Nopryansah Yosua Hutabarat alias Brigadir J memasuki ruang pribadi istri Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo.
Diduga Brigadir J melakukan pelecehan dan menodong istri Irjen Ferdy Sambo menggunakan senjata.
“Setelah melakukan pelecehan, dia juga sempat menodongkan senjata ke kepala ibu Kadiv,” kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Budhi Herdi Susianto, Selasa 12 Juli 2022.
Pada waktu itu, kata Budhi, istri Irjen Ferdy bangun dan akan berteriak minta tolong.
Pada waktu itu, istri Ferby Sambo berteriak.
Brigadir J panik karena dia mendengar suara langkah berjalan yang dikenal sebagai Bharada E.
Hanya setengah menuruni tangga, Bharada E melihat sosok Brigadir J keluar dari ruangan.
Bharada E kemudian bertanya kepada Brigadir J tentang teriakan itu.
Alih -alih menjawab, Brigadir J melepaskan tembakan ke Bharada E.
“Pada saat itu tembakan yang dikeluarkan atau dilakukan saudara J tidak mengenai saudara E, hanya mengenai tembok,” kata Budhi.
Berbekal senjata, Bharada E membalas serangan Brigadir J.
Sampai akhirnya, lima tembakan yang dilepaskan bersarang di tubuh Yoshua.
“Saudara RE juga dibekali senjata, dia kemudian mengeluarkan senjata yang ada di pinggangnya. Nah ini kemudian terjadi penembakan,” katanya, dikutip dari tribunnews.com.
Singkat cerita, Brigadir J terbunuh oleh peluru yang ditembak oleh Bharada E.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
