Teknologi pertanian terbaru di Indonesia bisa dikatakan berkembang cukup pesat. Tentu saja teknologi ini telah menarik perhatian berbagai kalangan, bahkan tidak hanya orang-orang yang bergerak di bidang pertanian saja, orang-orang awam juga penasaran dengan teknologi penemuan pertanian terbaru itu.
Fenomena baru ini terjadi berkat kontribusi besar dari lingkungan universitas, pemerintah, bahkan perusahaan swasta. Tiga lingkaran itu (universitas, pemerintahan dan perusahaan swasta) berlomba-lomba mengembangkan tekonologi pertanian menjadi lebih baik.
Dr. Syaifuddin, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa mengatakan “Teknologi pertanian dapat meningkatkan produksi dan tujuannya akan membuat petani sejahtera, petani yang rajin mengadopsi teknologi tentunya hasil yang didapatkan berbeda dengan yang tidak memanfaatkan teknologi. Ingin menjadi petani milenial, adopsi teknologi”.
“Adopsi inovasi teknologi pertanian ini sangat penting saat ini karena perluasan areal berkembang tiap tahun”, ujarnya ketika berperan sebagai moderator pada kegiatan Milenial Agriculture Forum (MAF) VI yang diselenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (17/07).
Ada 2 (dua) komponen yang perlu diperhatikan dalam pengembangan teknologi pertanian. Petani, karena petani itu pelaku utama, ujung tombak pertanian indonesi. Inovasi tidak akan bermanfaat apabila tidak diimplementasikan. Dan apabila dimanfaatkan akan membuat pendapatan petani lebih baik dan meningkat. Berikutnya adalah Penyuluh, selain memperkenalkan inovasi teknologi, penyuluh juga harus meningkatkan kapasitas petani sehingga dapat menjadi lebih baik.
- Pemilihan Rektor UNM 2027--2031 Dimulai, Pendaftaran Bakal Calon Dibuka 21 September
- Korupsi Perizinan Pemkab Gowa Mengarah ke Inisial MB, Kantor GMTD Digeledah Polisi
- Sempat Alami Kondisi Teknis, Seluruh Penumpang dan Awak GA604 Selamat
- Diduga Keracunan MBG di Tana Toraja, Puluhan Siswa Dievakuasi ke 3 Rumah Sakit
- Pesawat Garuda GA604 Pecah Ban Saat Takeoff, Mendarat Selamat di Makassar
Berikutnya, banyak factor yang wajib diperhatikan ketika mengimplementasikan teknologi baru.
Kebutuhan relatif, petani akan mengadopsi teknologi apabila memberikan manfaat. Kesesuaian, inovasi teknologi yang sesuai atau kompatibel tentunya akan mereka adopsi. Kerumitan, petani tidak akan mengadopsi teknologi yang mereka anggap rumit dan dapat merugikan. Kemudahan untuk dicoba, petani akan tertarik Ketika melihat teknologi tersebut mudah diaplikasikan dan adanya perbedaan dengan teknologi lama, terutama dengan hasil yang didapatkan. Itu adalah 5 faktor yang perlu diperhatikan, tambah Dr. Syaifuddin pada sesi pentupan kegiatan MAF VI.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) ketika mengukuhkan tiga Profesor Riset lingkungan Kementerian Pertanian (Kementan) di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbangtan) bertempat di Kota Bogor, Selasa (29/10) mengatakan hasil riset pasti akan menjadi bagian yang harus diimplementasikan atau dicoba seluruh jajaran Kementan agar riset dan teknologi menjadi energi dalam menyusun kebijakan dan program pembangunan pertanian.
“Oleh karena itu, para peneliti akan menggunakan seluruh kekuatan untuk menemukan hasil riset baru, varietas baru dan cara bertani baru yang bisa lebih efektif dan efisien bahkan mampu menopang kebutuhan pangan industri yang bergerak di bidang pertanian. Ini sangat penting dan tentu akan memberikan kontribusi kuat untuk hadirnya petani menghasilkan pangan berkualitas. Indonesia ini bisa hebat kalau risetnya bagus,” demikian tegas SYL.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM pertanian Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi menyebutkan
pemanfaatan teknologi sangat penting untuk mendukung industri 4.0. Pemanfaatan teknologi itu akan lebih efisien dan penting. Teknologi informasi, misalnya, bisa menghubungkan produsen dan konsumen.
Dia menyebut, saat pandemi menjauhkan permintaan produk pertanian dan pangan turun drastis. “Ini harus diatasi dengan menggunakan aplikasi, konsumen bisa order kepada produsen, petani milenial kita banyak yang menggarap ini,” kata dia.
Dedi mengatakan, penggunaan teknologi modern tidak boleh setengah hati. Saat era normal baru, teknologi menjadi keharusan agar produksi pertanian efisien, cepat, dan masif.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
