Terkini, Makassar – Malam itu, ruang praktik penuh sesak. Suara batuk, keluhan, dan derap langkah memenuhi udara.
Di tengah keramaian, seorang pria masuk sambil menggendong istrinya. Ini bukan adegan romantis seperti di film , tapi karena sang istri tak bisa berjalan alias lumpuh.
Ia segera dibaringkan di tempat tidur periksa. Tak mampu duduk.
Baiklah, kita kenalan dulu. Namanya Bu Rani, ibu satu anak. Usianya 29 tahun. Suaminya yang setia menemani, mulai bercerita:
“Sudah sebulan, Dok, istri saya tidak bisa jalan. Awalnya cuma sakit perut. Kami berobat ke mantri di kampung, katanya ‘kandungannya turun’. Sejak saat itu, dia tidak bisa jalan lagi.”
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
- 35 Struktur Kepengurusan DPW PPP Sulsel Akan Dilantik pada 20 Juni 2026, Diisi banyak Generasi Milenial dan Gen Z
Saya mengangguk pelan. Lalu mulai memeriksa — dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pemeriksaan fisik, pemeriksaan dalam, lalu USG. Hasilnya? Semua normal.
Tidak ada tanda-tanda kegawatan. Tidak ada penyakit organik. Kandungannya sehat. Tidak ada yang “turun”.
Tidak ada prolaps uteri. Prolaps uteri adalah istilah medis, nama lain dari turun kandungan.
Semua normal, tapi mengapa ia tak bisa berjalan?
Kutatap matanya.
Dari matanya… saya tahu.
Wajah itu bukan sekadar wajah orang sakit. Itu wajah yang dicekam kecemasan luar biasa. Ini bukan masalah tubuh. Ini masalah pikiran.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
