Saat itu, entah kenapa, saya merasa seperti penjual obat di pasar malam. Tapi saya tahu, kalimat2ku sedang membangunkan keyakinannya. Saya seolah memberikan sugesti kepadanya. Bahwa ia tidak lumpuh.
Pelan-pelan, Bu Rani mencoba bangun. Ia terduduk. Lalu menurunkan kakinya. Tangannya meraba tepian tempat tidur, mencari tumpuan. Suaminya tegang, nyaris tak berkedip.
“Satu langkah, Bu. Ayo. Bagus. Sedikit lagi…”
Bu Rani berdiri.
Ragu. Lalu melangkah. Satu… dua… tiga langkah… Menuju suaminya.
- Innalillahi, Putra Mantan Gubernur HZB Palaguna, Mawang Palaguna Meninggal Dunia
- Bupati Andi Utta Apresiasi KM Bulukumba di Rantau yang Konsisten Berkurban untuk Kampung Halaman
- Perjalanan Telkomsel Selama 31 Tahun Menjaga Semangat 'Melayani Sepenuh Hati'
- Kisah Haru Opa Liu, Warga Kelahiran Makassar yang Bangun "Indonesia Kecil" di Tiongkok
- MaxOne Hotel & Resort Makassar Gelar Salat Ied dan Salurkan Daging Kurban ke Warga Sekitar
“MasyaAllah…” gumam saya dalam hati.
Ia mulai percaya diri. Tubuhnya tegap. Kakinya mantap.
Ia berhasil!
Senyum saya mengembang. Tapi saya yakin — senyum mereka jauh lebih lebar. Bahagia tak terkira.
Bu Rani spontan mencium tangan saya.
“Terima kasih, Dokter…” katanya lirih
Ia keluar dari ruangan saya. Berjalan. Tanpa dipapah. Tanpa dibopong.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
