Saat itu, entah kenapa, saya merasa seperti penjual obat di pasar malam. Tapi saya tahu, kalimat2ku sedang membangunkan keyakinannya. Saya seolah memberikan sugesti kepadanya. Bahwa ia tidak lumpuh.
Pelan-pelan, Bu Rani mencoba bangun. Ia terduduk. Lalu menurunkan kakinya. Tangannya meraba tepian tempat tidur, mencari tumpuan. Suaminya tegang, nyaris tak berkedip.
“Satu langkah, Bu. Ayo. Bagus. Sedikit lagi…”
Bu Rani berdiri.
Ragu. Lalu melangkah. Satu… dua… tiga langkah… Menuju suaminya.
- BMKG: Sejumlah Wilayah Sulsel Berpotensi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini 17 Juni
- Minta Maaf Secara Terbuka, Kapolres Jeneponto Jamin Berikan Sanksi Tegas Polis yang Intimidasi Wartawan
- Pertamina Patra Niaga Sulawesi Perkuat Pasokan Biosolar dan Pengaturan Layanan di SPBU Maros
- TKIT Nurul Uswah Tandutedong Lepas 51 Anak Didik, Bupati Minta Anak Sidrap Berani Berkompetisi
- 35 Struktur Kepengurusan DPW PPP Sulsel Akan Dilantik pada 20 Juni 2026, Diisi banyak Generasi Milenial dan Gen Z
“MasyaAllah…” gumam saya dalam hati.
Ia mulai percaya diri. Tubuhnya tegap. Kakinya mantap.
Ia berhasil!
Senyum saya mengembang. Tapi saya yakin — senyum mereka jauh lebih lebar. Bahagia tak terkira.
Bu Rani spontan mencium tangan saya.
“Terima kasih, Dokter…” katanya lirih
Ia keluar dari ruangan saya. Berjalan. Tanpa dipapah. Tanpa dibopong.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.
