Makassar Terkini
Masuk

Kasus Bayi Meninggal Akibat Salah Suntik, DPRD Sulsel Panggil Direksi RS Wahidin Makassar

Terkini.id – Komisi E DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menggelar rapat dengar pendapat dengan memanggil pihak direksi di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo Makassar, Jumat 12 Agustus 2022.

Pemanggilan itu karena adanya aspirasi dari organisasi Pemuda Pancasila Sulsel, terkait meninggal Danendra, bayi berusia satu bulan lebih, di Rumah Sakit (RS) Wahidin Sudirohusodo Makassar, karena diduga salah suntik yang dilakukan oleh perawat magang.

Hadir pada rapat tersebut Akbar selaku paman atau saudara dari ibu Danendra. Pemuda Pancasila mempertanyakan tentang SOP RS Wahidin terkait kasus kematian Danendra.

Direktur Pelayanan Medic, perawatan dan Penujang wahiding, Dokter Nu’man As Daud mengakui bahwa terjadi salah suntik yang dilakukan salah satu perawat magang di RS Wahidin.

Ia menjelaskan kronoligisnya, pada 19 Juli 2022, pasien Danendra akan diberikan obat injeksi Ampicillin sesuai dengan jadwalnya. Kemudian perawat jaga 2 dan 3 menyiapkan obat, perawat jaga 3 bersama dengan perawat magang hendak menyuntik Danendra. 

Karena ada keluhan pasien lain di sebelahnya maka perawat jaga 3 melakukan penyuntikan kepada pasien lain. Sementara perawat magang menyuntik pasien Danendra yang ternyata salah obat. 

“Ternyata perawat magang ini tidak cermat mengambil obat. obat yang seharusnya disuntikkan harusnya Ampicillin, karena ada dua spuit di situ, tapi yang masuk adalah obat Septriasol,” jelas Dokter Nu’man pada rapat tersebut.

Menurut Nu’man, meskipun obat yang disuntikan bukan Ampicillin, namun Septriasol sama-sama obat antibiotik.

“Artinya kalau tidak ada Ampicillin, Septriasol juga bisa digunakan. walaupun bukan obatnya namun dosisnya tepat,” ungkapnya.

Setelah dilakukan penyuntikan, maka perawat jaga 2 memastikan kondisi pasien dengan tanda-tanda vital. Sekitar 5 menit, pasien mengalami kejang, kemudian perawat jaga 2 menyuntikkan obat anti kejang yang rutin diberikan oleh pasien dan atas izin dari ibunya. 

“Setelah penyuntikan itu pasien tenang dan tertidur. Sekitar 30 menit kemudian kondisi pasien menurun dan 15 menit kemudian pasien berhenti nafas dokter melakukan penanganan, namun pasien dinyatakan meninggal,” ungkapnya.

Mengenai kasus tersebut, pihak RS Wahidin Sudirohusodo Makassar memberikan sanksi kepada perawat magang yaitu diskorsing dan tidak lagi melakukan praktek di RS Wahidin. Sementara tiga perawat senior diberi sanksi berupa pemotongan tunjangan sebesar 25 persen selama tiga bulan, namun tetap bertugas.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi E DPRD Sulsel, Andry Prasetyo mengatakan, meskipun pihak RS Wahidin sudah menjelaskan kronologis terkait meninggalnya Danendra, namun pihak Komisi E tetap akan membuatkan rekomendasi yang nantinya akan diteruskan ke Kementerian Kesehatan dan DPR RI.

“Karena RS Wahidin bukan kewenangan DPRD Provinsi Sulsel, sehingga kami membuat rekomendasi untuk ditindaklanjuti oleh komisi membidangi kesehatan di DPR RI dan Kementerian kesehatan untuk diproses,” pungkasnya.