Manifesto Demokrasi Masyarakat Sipil Sulawesi Menentang Monopoli dan Krisis Agraria

Manifesto Demokrasi Masyarakat Sipil Sulawesi Menentang Monopoli dan Krisis Agraria

K
Kamsah

Penulis

Salah satu sektor yang patut diwaspadai adalah penggunaan PLTU Captive pada smelter nikel menyebabkan peningkatan kasus penyakit pernapasan (ISPA). Pencemaran laut akibat sedimentasi semakin meluas, memberikan dampak serius terhadap hasil tangkapan nelayan.

Negara harus segera melakukan evaluasi mendalam terhadap dampak proyek pembangunan yang tidak ramah lingkungan serta meredam ambisi hilirisasi nikel yang tidak transparan untuk melahirkan solusi yang berkelanjutan demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Rezim pemerintahan jokowi yang melahirkan berbagai kebijakan yang memperparah krisis ruang hidup dan konflik agraria. terus berupaya mempertahankan kekuasaannya melalui Pemilu 2024 dengan serangkaian penyalahgunaan wewenang, pelanggaran hukum dan etika serius.

Presiden secara terbuka berkampanye dan berpihak kepada Paslon yang akan meneruskan kebijakannya menggunakan institusi maupun fasilitas negara, memobilisasi dan menggerakkan Aparat negara (TNI/POLRI), Aparat Desa untuk berpihak pada paslon tertentu, mempolitisasi bantuan sosial sebagai alat kampanye.

Kemunduran demokrasi yang terus berlangsung bukan hanya kepada masyarakat yang memperjuangkan haknya yang diperhadapkan pada kriminalisasi dan kekerasan aparat untuk memuluskan perampasan hak masyarakat. Secara keseluruhan masyarakat, masyarakat adat, aktivis, dan mahasiswa mengalami represi dan kriminalisasi terhadap kebebasan berpendapat, berekspresi, dan kebebasan sipil kepada kepada warga negara yang mengkritik terhadap berbagai penyelewengan kekuasaan.

Baca Juga

Dalam kontestasi Pemilu 2024 Mahasiswa, Guru besar, akademisi di berbagai perguruan tinggi dan aktivis pro demokrasi yang mengkritik presiden yang terus mempertontonkan pelanggaran etika dan konstitusi juga mengalami intimidasi dan terancam kriminalisasi. Praktek represi tersebut bahkan dilakukan dengan mengarahkan aparat kepolisian dan melalui premanisme individu.

Negara kini tengah sibuk menjalankan politik prosedural berupa pemilihan umum serentak untuk memilih Calon Presiden, Wakil Presiden, Calon Anggota Legislatif di berbagai level hingga Calon Anggota Dewan Perwakilan Daerah. Kesemua calon ini sedang berpoles dan menebarkan janji politik dan saling berebut suara dan tidak mampu menghindari polarisasi di level masyarakat.

Rakyat terus didesak untuk hanya berada di lingkaran politik elektoral semua, memilih dengan pengetahuan yang terbatas tentang sejarah, rekam jejak, dan kepentingan ekonomi di belakang para kandidat presiden dan wakil presiden ini.

Sementara itu, kekuasaan yang dijalankan secara ugal-ugalan terus mengancam ruang dan wilayah hidup kita. Sejatinya tidak akan ada reforma agraria di negara yang hanya sibuk menjalankan pemilu untuk memilih penguasa yang kelak akan terus melakukan eksploitasi dan perampasan tanah untuk kepentingan oligarki dan para kroninya.

Kami percaya bahwa tugas sejarah kita hari ini adalah membuktikan bahwa praktik untuk perebutan kekuasaan yang ditunjukkan tanpa rasa malu dan penuh ambisi oleh para penguasa dan kekuatan ekonomi feodal yang bergandengan tangan dengan kekuatan kapital global hari ini akan kalah oleh kesadaran rakyat yang terdidik dan bertumpu pada kekuatan perjuangan yang demokratis.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.