Masuk

Menolak Lupa! Buntut Kelalaian KPK Mengenai Rekaman Bukti Megakorupsi E-KTP, Johannes Marliem: Nyawa Saya Terancam Gara-gara Itu

Komentar

Terkini.id, Jakarta – Selain kasus Hambalang, publik kembali disegarkan ingatannya dengan megakorupsi lain yakni kasus E-KTP yang menyeret sejumlah nama termasuk ketua DPR yang saat itu menjabat.

Kini, kasus tersebut memasuki babak baru, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hendak memeriksa empat saksi dalam kasus dugaan megakorupsi e-KTP.

KPK menyatakan hendak mengusut lagi kasus korupsi yang merugikan keuangan negara Rp 2,3 triliun itu.

Baca Juga: Kasus Pencabulan Pegawai Toko di Tambora Jakarta Barat, Berakhir Damai

Empat saksi yang dijadwalkan hadir yakni mantan Dirut PT Pura Barutama bernama Yohanes Moelyono, Dirut PT Pura Barutama Yohanes Slamet, Karyawan PT Pura Barutama Suwandi Utomo, dan Karyawan PT Pura Barutama Susan Suhartini.

Kemunculan berita rencana pemeriksaan ini menuai banyak komentar warganet. Sebagian besar menghimbau kepada KPK agar melidungi dengan serius para saksi sebab dalam kasus ini sejumlah saksi wafat termasuk Johannes Marliem.

“Yang bilang dia hanya cari simpati jelas tolol. hambalang, bank century, e-ktp saksi kuncinya pada meninggal semua dan lu masih bilang ni orang cari simpati? mikir lah, gak mngkin semua saksi kunci 3 mega proyek itu kompak meninggal kalau gak ada dalangnya” tulis akun @aqsalM12.

 
“Teringat nasib saksi-saksi kasus E-KTP yg tewas one by one” tulis akun lain @yoga_fixy.
Baca Juga: Negara Anggota OPEC Bela Arab Saudi Lawan Tudingan AS

Hingga kini kematian Johannes Marliem, saksi kunci kasus korupsi e-KTP (KTP elektronik) menyisakan banyak misteri.

Sebelumnya diketahui bahwa pria itu dikabarkan bunuh diri namun anehnya ditemukan beberapa luka di tubuhnya, hal yang kurang lazim dalam peristiwa bunuh diri.

Sebelum meninggal dunia, ia sempat mengungkapkan kekecewaannya pada pimpinan KPK dan sebuah media massa lantaran pemberitaan yang membuat nyawanya terancam.

“Saya tidak mau dipublikasi begini sebagai saksi. Malah sekarang bisa-bisa nyawa saya terancam,” ujarnya dilansir dari laman Detik pada Agustus 2017 lalu.

Baca Juga: Dikira Meteor, Ambisi China Membahayakan Penduduk Bumi, Menteri Pertahanan AS: China Gagal Memenuhi Standar Penerbangan Antariksa

“Seharusnya penyidikan saya itu rahasia. Masa saksi dibuka-buka begitu di media. Apa saya enggak jadi bual-bualan pihak yang merasa dirugikan? Makanya saya itu kecewa betul,” imbuh Marliem mengomentari bocornya kepemilikan rekaman pembicaraan terkait pembahasan proyek e-KTP.

Berita yang Marliem maksud ialah soal terbongkarnya bukti berupa rekaman pembicaraan. Padahal, rekaman tersebut sebenarnya tak ingin ia beberkan.

“Saya kira sama saja hukum di AS juga begitu. Kita selalu menjunjung tinggi privacy rights, harus memberitahu dan consent bila melakukan perekaman,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Marliem juga sempat memberi komentar terkait soal kartu-kartu yang dikeluarkan pemerintah, seperti Kartu Indonesia Pintar, Kartu Keluarga Sejahtera, BPJS dan sebaginya.

Baginya, kartu tersebut hanya pemborosan anggaran karena hanya plastik yang berisi tulisan. Sementara, e-KTP berisi data biometrik yang sangat valid. Dengan e-KTP, pemerintah bisa memastikan jumlah anggota keluarga, berapa anak yang harus disubsidi.

“KTP-el saat ini sudah siap, mau dijadikan e-Toll bisa, jadi e-money juga bisa. Tapi, karena di sektor-sektor itu sudah dikuasai mafia jadi pemerintah tidak berani ambil keputusan politis,” katanya.

Marliem saat itu disebut-sebut sering bolak-balik Amerika-Jakarta ketika proyek e-KTP digagas sejak 2010 bersama Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia bersama Andi Narogong dan kelompok Fatmawati yang dibentuknya.