Normalisasi Dosa

Normalisasi Dosa

EP
Dr. dr. Dewi Setiawati, Sp.OG., M.Kes.
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Aku menatap mereka dalam-dalam.
“Anakku,” kataku lirih, “yang ada di rahimmu itu bukan sekadar gumpalan darah. Ia adalah nyawa. Amanah yang Allah titipkan. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ
‘Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (alasan) yang benar…’ (QS. Al-Isra: 33).

Meminum obat penggugur itu bukan sekadar tindakan medis. Itu berarti mengakhiri kehidupan. Dan kelak, setiap nyawa akan menuntut di hadapan Allah.”

Wajah Mawar menunduk, matanya berkaca-kaca. Kumbara berusaha tenang.

Aku melanjutkan, “Kalian masih muda, masih punya cita-cita. Tapi kalian memilih jalan pintas yang penuh dosa. “

Baca Juga

Inilah potret generasi kita hari ini. Pintar di kelas, tapi rapuh dalam moral. Canggih dalam teknologi, tapi buta dalam menjaga kehormatan.

Aku teringat sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidaklah muncul zina di suatu kaum hingga mereka berani melakukannya terang-terangan, melainkan akan tersebar penyakit-penyakit baru yang belum pernah ada di generasi sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah).

Dan bukankah kita sudah menyaksikannya?
Penyakit menular seksual semakin merebak.
Aborsi ilegal merajalela.

Seks bebas dianggap tren biasa.
Orang tua banyak yang abai, sibuk dengan urusan dunia.

Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.