Pembunuhan Karakter di Media Sosial

ERA keterbukaan informasi merupakan gerbong yang luar biasa bagi masyarakat luas untuk mendapatkan informasi yang cepat, mudah dan tidak terbatas.

Sebagai warga negara, memperoleh informasi merupakan hak dasar kita. Hak mutlak yang tanpa dibatasi oleh berbagai macam intimidasi maupun konspirasi.

Namun pemenuhan hak memperoleh informasi akan terhambat, karena adanya benturan kepentingan terhadap pihak pihak yang menguasai informasi. Hal ini diartikan bahwa kelompok kelompok tertentu yang memiliki ataupun menguasai akses pada media dapat dengan mudah merebut opini publik sesuai dengan konteks yang mereka inginkan.

Meskipun media telah memberikan peran bagi keterbukaan informasi, harus diakui media juga memberikan akses berupa ketegangan maupun disharmoni.

Saat ini, peran media memiliki alternatif baru dan mudah, yaitu dengan peran sosial media yang secara aktif mewujudkan keterbukaan informasi publik.

Keterbukaan informasi yang memungkinkan orang memperoleh informasi yang berguna bagi dirinya sendiri maupu bagi orang lain secara mudah gamblang bahkan cenderung kebablasan.

Sosial media bila digunakan untuk menyampaikan sebuah berita tanpa mempertimbangkan konsep cover both side maupun kritik yang dilayangkan melalui sosial media cenderung mengarah pada pembunuhan karakter (character assasination) sering terjadi dan melenggang bebas tanpa perlu menyampaikan identitas si-empunya.

Hal tersebut terjadi sebab, sosial media tidak memiliki mekanisme sistem ataupun control yang berlaku seperti pada media independen. Tidak adanya editor dalam menyampaikan berita maupun wadah organisasi yang seringkali bersifat birokratis dan hirarkis, membuat sosial media seolah olah menjadi ajang pasar bebas dalam menyampaikan informasi.

Maka tidak heran jika sosial media menjadi ajang berjibaku bagi sebagian masyarakat dalam mebuat opini publik yang kadang kala menyesatkan.

Jika melihat dinamika media sosial, sebagian masyarakat menjadikan pula media sebagai instrumen komoditi, masyarakat cenderung mengambil keuntungan dengan memanfaatkan media sosial, dan bagi saya ini adalah sebuah karakter yang beda dari sosial media-media sosial fitrahnya sebagai sumber untuk mencari informasi, namun sekarang digunakan sebagai ajang untuk merusak citra diri demi mendapatkan adsesnse .

Tidak sedikit masyarakat yang melakukan hal demikian. Paradigma masyarakat terhadap media sosial dijadikan sebagai ajang unjuk diri, dengan adanya paradigma demikian membuat masyarakat semakin gentar dalam berupaya untuk menunjukkan eksistensinya. Penayangan yang tidak bermanfaat namun dianggap viral oleh masyarakat.

Instagram merupakan platform yang sampai saat ini banyak digunakan sebagai masyarakat sebagai ajang untuk menampakkan eksistensi, berdasarka data statistik weareSocial.net mengungkapkan bahwa indonesia menjadi negara urutan ke tiga dengan pengguna intagram terbanyak, dan 48% informasi yang masuk dalam instagram ialah berupa informasi yang kurang mengedukasi.

Demikian pula media sosial apabila menonjolkan tayangan yang mendorong tumbuhnya sifat-sifat yang kurang mendidik atau amoral maka pasti informasi atau penayangan seperti ini menjadi tidak bermutu untuk meningkatkan kualitas nilai dan budaya manusia dan masyarakat. Secara aksiologi informasi menjadi sangat penting.

Penulis: Lona Syafana (lona.syafanapasya2323@gmail.com)

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Selamat Jalan Mr Crack

DI dunia yang dihuni tujuh miliar penduduk, ada segelintir orang -- mungkin tak sampai selusin -- yang disebut dengan jenaka sebagai gipsy aeronautics. Orang-orang
Opini

Joshua Wong, Tokoh Utama Demo Hong Kong

IA ditangkap. Ia dibebaskan. Ia dilarang pergi ke luar negeri. Ia diizinkan pergi.Itulah hebatnya hukum di Hongkong. Peninggalan Inggris.Joshua adalah salah satu tokoh utama
Opini

Tentang Perlindungan Anak

INI kejadian tahun 2010. Sorang anak kecil datang menghampiri saya dan menawarkan payung untuk saya bisa menerobos hujan keluar dari stasiun BusWay. Saya tersenyum
Opini

Pemerintahan Yang Berubah

PERNAHKAH kita menyelami bahwa keberadaan pemerintah tidak lain dimaksudkan untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.Namun, seringkali kita meragukan bahwa penyelenggaraan pemerintahan telah berjalan dengan
Opini

Mengenal Kaltim Calon Ibu Kota Kita

TAHUKAH anda bahwa satu satunya lahan di Kalimantan Timur yang tidak dikuasai penambang dan HTI (Hutan Tanaman Industri) adalah Balikpapan. Merujuk salinan Dinas Energi dan
Opini

Ibu Kota Baru

SAYA tahu lokasi itu. Yang direncanakan jadi ibu kota baru Republik Indonesia itu. Yang kemarin diumumkan sendiri oleh Bapak Presiden Jokowi itu.Di Kaltim ada
Opini

Tanda-tanda Resesi

17 Agustus tahun ini.Tiga hari sebelumnya.Jam 6 pagi waktu New York.Itulah hari pertama kurva terbalik: yield bond jangka panjang lebih rendah dari yield bond
Opini

74 Tahun Indonesia, Merdeka dalam Penindasan

TANGGAL 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun.Berbagai macam bentuk kegiatanpun dilakukan dalam rangka